pinterduit blog logo Pinterduit.com

Platform ngeblog asli buatan lokal, menulis itu untuk melepas beban bukan untuk menambah beban







Home » Umum



Analogi Penunggang Keledai dan Kebijakan Presiden Jokowi

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 24 May 2020 • 43 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Masih terbayang-bayang jelas dalam ingatan, tentang sebuah kisah cukup lucu tetapi inspiratif yang beredar luas di group-group WhattsApp beberapa tahun yang lalu. Kisahnya adalah tentang sepasang suami isteri yang menaiki keledai. Begini kisahnya:
Sepasang suami isteri sedang dalam perjalanan menuju ke kota untuk berbelanja, keduanya menunggangi seekor keledai jantan dewasa yang cukup sehat. Selain mereka tunggangi, barang-barang bawaan mereka yang lumayan banyak juga mereka ikat di tubuh keledai itu.
Ketika melewati kampung pertama, orang-orang bergumam bahwa kedua orang itu sungguh begitu kejam, karena mereka menaiki seekor keledai bersama barang bawaan lagi. Tidakkah mereka kasihan dengan keledainya membawa beban yang demikian berat. Coba si isteri saja yang naik keledai, karena perempuankan lebih lemah, kata orang-orang kampung itu. Suaminya kan bisa berjalan kaki saja sambil menuntun keledai mereka yang ditunggangi isterinya. Sehingga beban keledainya itu bisa lebih ringan.
Masuk akal juga, pikir kedua suami isteri ini. Begitu mereka keluar dari kampung yang pertama itu, sang suami pun lalu turun. Dia biarkan isterinya naik keledai, sementara dia sendiri berjalan kaki sambil menuntun keledai yang dinaiki isterinya. Begitu melewati kampung yang kedua, mereka mendengar lagi orang-orang kampung berbicara satu sama lain. Sungguh isteri tidak tahu diri. Sekarang bukan jamannya lagi wanita itu manja. Sekarang jaman emansipasi. Tidak seharusnya perempuan selalu dimanjakan. Cobalah laksanakan emansipasi itu, sang wanitalah yang berjalan dan lebih baik suaminya yang sudah uzur itu yang naik keledai bersama barang bawaan mereka. Karena suaminyakan lebih tua, agar suaminya bisa berumur lebih panjang.
Sang isteripun merasakan perkataan orang kampung itu ada benarnya. Dia bukanlah wanita yang lemah dan tidak perlu terlalu dimanja dan dikasihani. Maka begitu melewati kampung yang kedua, sang isteri lalu turun tanpa meminta persetujuan suaminya dan meminta suaminyalah yang naik keledai itu bersama barang bawaan mereka. Sang suami yang tahu tabiat isterinya yang keras hati dan marah jika kemauannya dilawan, tidak membantah. Dia lalu naik keledai mereka itu bersama barang bawaan mereka dan sang isterilah yang berjalan kaki dan menuntun keledai mereka.
Ketika melewati kampung yang ketiga, kembali lagi mereka mendengar orang-orang berkata satu sama yang lainnya. Sungguh seorang suami tidak tahu diri. Meskipun ini sekarang sudah jaman emansipasi, bagaimanapun fisik seorang wanita itu lebih lemah dari kaum lelaki. Kalau saya yang jadi isterinya, sudah lama saya tinggalkan, kata mereka.
Kedua suami isteri inipun kemudian kembali saling pandang. Benar juga kata orang-orang itu, pikir mereka. Akhirnya ketika keluar dari kampung yang ketiga ini, sang suamipun turun dan sepasang suami isteri itu lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali sambil menuntun keledai mereka. Tetapi ketika melewati kampung yang keempat, kembali lagi mereka mendengar orang-orang kampung membicarakan mereka berdua. Sungguh sepasang suami isteri yang tolol, kata orang-orang kampung itu. Punya keledai tetapi tidak ditunggangi, malah berjalan kaki sambil menuntunnya. Cobalah mereka naiki keledai itu, kan ringan juga beban mereka dan tidak akan terlalu lelah dalam perjalanan.

Demikianlah kira-kira posisi pak Jokowi, presiden kita sekarang. Kebijakan apapun yang Bapak ambil, tidak akan pernah benar di mata orang-orang yang tidak menyukai Bapak. Tetapi kami sangat berharap kepada Bapak Presiden, janganlah perdulikan kaum yang suka nyinyir, kaum sakit hati, kaum yang tidak bisa lagi bebas korupsi uang negara, kaum yang dendam karena kalah dalam Pemilu, kaum yang tidak berakal sehat, kaum yang agak konslet. Masih banyak rakyat yang mencintai Bapak, masih banyak rakyat yang berdoa untuk kesehatan, kekuatan, dan konsistensi Bapak untuk membangun negeri ini agar menjadi lebih baik.
Kami tahu bapak adalah orang yang baik hati, kami tahu Bapak tidak KKN, kami tahu Bapak memang murni mengabdi untuk rakyat, kami tahu Bapak sangat mencintai negeri ini, kami tahu Bapak mencintai rakyat, kami tahu Bapak seorang yang taat beragama tetapi tidak memamerkan keimanan Bapak ke khalayak ramai, kami tahu Bapak adalah seorang Muslim sejati.
Jadi harapan kami, janganlah Bapak putus asa, majulah terus demi kejayaan bangsa ini. Rakyat mayoritas memilih Bapak, karena percaya dengan track record Bapak yang baik dan tidak curang. Bapak ibaratkan seorang Bapak di dalam sebuah rumah tangga. Tidak semua anak seperti yang diharapkan. Ada anak yang baik dan patuh pada orang tua. Ada anak yang jadi pemberontak karena menerima pengaruh buruk dari luar. Tapi ingatlah, semua itu anak anak bapak. Jadi harus dicintai semua, apapun tingkah dan perangai mereka. Semuanya anak-anak Bapak. Tuhan memilih bapak memenangi Pemilu, karena Tuhan percaya akan kemampuan dan kejujuran Bapak dalam mengelola negeri ini.
Jikalah boleh kami menyarankan, Bapak Presiden ambillah langkah terakhir sebagai langkah pemungkas untuk keselamatan dan kesehatan negeri ini dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Karena apapun yang Bapak lakukan, akan tercatat dalam sejarah perjuangan negeri ini dan umat manusia secara umum. Jika memang lodckdown memang diperlukan dan dipertimbangkan efektif untuk kondisi Indonesia yang rakyatnya keras kepala dan bebal ini, lakukanlah. Potonglah kekayaan orang-orang yang mempunyai harta diatas 10 miliar untuk membantu meringankan beban negara, terutama orang-orang yang selama ini hanya pandai nyinyir tetapi tidak punya aksi nyata, hanya memperkeruh suasana saja. Perkuat tindakan Bapak dengan regulasi yang dibuat bersama anggota DPR RI yang terhormat, demi keselamatan dan kesehatan bangsa.
Kami selama ini adalah bagian dari rakyat yang patuh pada instruksi Pemerintah, kami tinggal di rumah saja meskipun keadaan ekonomi kami juga morat-marit dan terkadang hanya makan kolak ubi saja untuk bertahan hidup. Kami melaksanakan social distancing dan physical distancing, selalu mengenakan masker kalau keluar rumah, selalu mencuci tangan, selalu langsung mandi dan merendam serta mencuci pakaian begitu pulang dari luar. Kami tidak pulang kampung, kami tidak saling berkunjung dengan keluarga. Percayalah, Bapak. Masih banyak rakyat negeri ini yang tetap patuh dengan kebijakan Pemerintah diantara orang-orang yang suka nyinyir, melawan. bebal, keras kepala, merasa diri wakil Tuhan, merasa diri selalu benar. Kami juga sangat lelah dan kecewa melihat ulah mereka yang begitu tidak perduli akan orang lain dan tenaga kesehatan yang sudah sangat kelelahan dalam menangani pasien Covid-19 ini, mereka sok paling beriman meskipun bisa juga terinfeksi Virus Corona dan sebagian mati juga. Namun kami juga paham akan kondisi Bapak dan jajaran Bapak yang juga sangat kecewa, lelah, buntu, dan sejuta masalah lainnya dalam menangani pandemi ini dan mengurus rakyat yang wawasannya seperti katak di bawah tempurung.
Oleh sebab itu, dengan hormat kami mohon Bapak Presiden, kalau memang pilihan terakhirnya hanya lockdown, lakukan. Janganlah wacana Herd Immunity itu dilaksanakan. karena rakyat sudah sangat susah, ekonomi sudah hancur-hancuran. Memang beban negara akan sangat besar, tetapi nyawa manusia tidaklah sebanding dengan uang yang dikeluarkan. belum lagi Indonesia bisa kehilangan orang-orang potensial untuk kemajuan bangsa ke depannya yang mungkin saja ada di antara mereka yang meninggal itu. Lockdown saja dengan aturan dan sanksi yang sangat ketat.
Dalam memberikan bantuan di masa lockdown, berikanlah kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, biarlah orang-orang mampu yang tahu diri, memberikan bantuan itu kepada tetangganya yang memang perlu. Karena kalau hanya berdasarkan data dari RT ke Desa, dari Desa ke Kecamatan dan dari kecamatan ke Kabupaten, lalu dilaporkan ke pusat, jangan terlalu dipercaya itu, Bapak. sebab di sana sini masih banyak orang yang seharusnya butuh bantuan, tetapi tidak dimasukan. Sebaliknya, masih banyak yang seharusnya tidak perlu dibantu, tetapi mendapatkan bantuan. Agar rakyat negeri ini, anak-anakmu bisa sehat semua dan selamat semua. Tahun depan, percayalah. Bangsa Indonesia akan bangkit. Indonesia akan baik-baik saja.

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Analogi Penunggang Keledai dan Kebijakan Presiden Jokowi




Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code