PinterDuit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Banyak Orang Mengaku Berintegritas






Pinterduit.com - Integritas

Apa itu Integritas?
Tidak ada sebuah definisi yang singkat, padat, dan pas untuk sebuah integritas. Tapi melalui ilustrasi di bawah ini, semoga bisa menjelaskan pengertian dari sebuah integritas itu.
Semua orang akan dengan mudah mengatakan bahwa dirinya berintegritas. Dia bisa berkoar-koar kemana-mana dan kehidupan luarnya sepertinya orang yang taat beragama dan patuh pada hukum. Tetapi seseorang yang berintegritas itu paling tidak sudah punya DNA berintegritas dari sononya yang dibarengi dengan usaha-usaha pribadi secara terus-menerus untuk selalu menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan ajaran agama dan melawan hukum negara.

Makna Sebuah Integritas
Suatu penelitian menyatakan bahwa perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada usia negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang usianya lebih dari 5.000 tahun, tetapi sampai saat ini mereka masih saja terbelakang (miskin). Di sisi lain Negara seperti Amerika Serikat, Singapura, Kanada, Australia dan Selandia Baru, negara yang umurnya kurang dari 300 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara-negara maju di dunia, dan penduduknya rata-rata terpelajar dan secara umum tidak lagi miskin.
Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas, dimana daratannya delapan puluh persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor tiga di dunia, setelah Amerika Serikat (USA), dan Cina (RRC). Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya. Produksi barang Jepang seperti mobil Toyota, motor Honda, dan barang-barang elektronik dengan kualitas nomor wahid meraja lela di seluruh dunia. Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, luas wilayahnya jauh lebih kecil dari provinsi Jawa Timur ini, hanya sebelas persen daratannya yang bisa ditanami. Tapi Swiss mampu mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle dari Swiss adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia dengan usianya yang sudah ratusan tahun. Bank-bank di Swiss juga saat ini menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju dan kaya di Eropa. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penentu dalam kecerdasan dan kesuksesan seseorang.
Lalu, apa perbedaannya? Ternyata, perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk dalam suatu proses panjang dan terus-menerus melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti dan mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan yang salah satu dari prinsip dasarnya itu adalah integritas diri.

Lalu, apakah makna integritas bagi kita?
Pertama, integritas berarti komitmen dan loyalitas. Apakah komitmen itu? komitmen adalah suatu janji pada diri sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan-tindakan seseorang. Seseorang yang berkomitmen adalah mereka yang dapat menepati sebuah janji dan mempertahankan janji itu sampai akhir, walau pun harus berkorban. Banyak orang gagal dalam komitmen. Faktor pemicu mulai dari keyakinan yang goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidakmampuan mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Gagal dalam komitmen menujukkan lemahnya integritas diri.
Kedua, integritas berarti tanggung jawab. Tanggung jawab adalah tanda dari kedewasaan pribadi. Orang yang berani mengambil tanggung jawab adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, dan melakukan kewajiban dengan kemampuan yang terbaik. Peluang menuju sukses terbuka bagi mereka. Sementara itu, orang yang melarikan diri dari tanggung jawab merasa seperti sedang melepaskan diri dari sebuah beban (padahal tidak demikian). Semakin kita lari dari tanggung jawab, semakin kita kehilangan tujuan dan makna hidup. Kita akan semakin merosot, merasa tidak berarti dan akhirnya menjadi pecundang yang ujung-ujungnya akan menjadi penghasut atau provokator di tengah masyarakat.
Ketiga, integritas berarti dapat dipercaya, jujur dan setia. Kehidupan kita akan menjadi dipercaya, apabila perkataan kita sejalan dengan perbuatan kita; tentunya dalam hal ini yang kita pandang baik atau positif. Sebuah pribahasa mengatakan “kemarau setahun akan dihancurkan oleh hujan sehari”, yang artinya segala kebaikan kita akan runtuh dengan satu kali saja kita berbuat jahat.
Keempat, integritas berarti konsisten. Konsisten berarti tetap pada pendirian. Orang yang konsiten adalah orang yang tegas pada keputusan dan pendiriannya tidak goyah. Konsisten bukan berarti sikap yang keras atau kaku. Orang yang konsisten dalam keputusan dan tindakan adalah orang yang memilih sikap untuk melakukan apa yang benar dengan tidak bimbang, karena keputusan yang diambil berdasarkan fakta yang akurat, tujuan yang jelas, dan pertimbangan yang bijak. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah konsistensi dimulai dari penguasaan diri dan sikap disiplin.
Kelima, berintegritas berarti menguasai dan mendisiplin diri. Banyak orang keliru menggambarkan sikap disiplin sehingga menyamakan disiplin dengan bekerja keras tanpa istirahat. Padahal sikap disiplin berarti melakukan yang seharusnya dilakukan, bukan sekedar hal yang ingin dilakukan. Disiplin mencerminkan sikap pengendalian diri, suatu sikap hidup yang teratur dan seimbang.
Keenam, berintegritas berarti berkualitas. Kualitas hidup seseorang itu sangat penting. Kualitas menentukan kuantitas. Bila kita berkualitas maka hidup kita tidak akan diremehkan. Kitab Suci menuliskan dengan gamblang tentang kehidupan para tokoh di dalamnya, ada yang gagal ada yang berhasil. Integritas hidup berkualitas adalah kehidupan yang membiarkan orang luar menilai diri kita. Pada saat menyenangkan ataupun pada saat tidak menyenangkan.
Ke tujuh, berintegritas artinya mampu menghargai orang lain ataupun pendapat orang lain. Seseorang yang tidak berintegritas hanya menganggap dirinya sendiri saja yang benar. Apapun yang diperbuat oleh orang lain akan selalu dianggap salah. Hanya pendapatnyalah atau pendapat kelompok serta tingkah laku kelompoknya sajalah yang paling benar. Dia tidak mampu melihat dan menghargai nilai-nilai serta perbuatan baik orang lain, semua yang dilakukan oleh orang lain adalah salah dan tidak ada benarnya sama sekali. Sehingga orang-orang yang begini akan menimbulkan kekacauan dan kegaduhan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Seseorang Yang Berintegritas
Setelah mengadakan survey atas ribuan orang di seluruh dunia dan melakukan lebih dari empat ratus studi kasus tertulis, James Kouzes dan Barry Posner menemukan ciri-ciri yang paling diinginkan orang dari seorang pemimpin. Dalam hampir setiap survey, maka integritas paling sering disebut daripada sifat-sifat lainnya. Hal ini masuk akal karena orang ingin mengikuti seseorang yang mereka yakini dapat dipercaya, jujur, bermoral tinggi, konsisten, menepati janji, dan berpegang teguh pada komitmennya.
Memperhatikan hasil riset di atas, tidak mengherankan jika ribuan tahun yang silam umat Israel memberikan penghormatan yang tinggi kepada Samuel, seorang nabi, imam, dan pemimpin legendaris pada masa itu. Samuel adalah seorang pemimpin penting dalam Sejarah Israel kuno. Kisahnya diceritakan dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, khususnya dalam Kitab 1 Samuel. Sebagai nabi, Samuel mengurapi dua raja pertama Kerajaan Israel, yaitu Raja Saul dan Raja Daud. Saat pidato perpisahan yang diabadikan dalam 1 Samuel 12:1-25, setelah memimpin Israel selama puluhan tahun, Samuel berjanji akan membayar kembali apapun yang diambilnya secara tidak adil dari siapapun. Suatu janji yang luar biasa! Yang lebih mengesankan adalah tanggapan umat Israel: tidak ada seorangpun yang bangkit untuk menuntut sesuatu dari sang nabi yang berintegritas ini. Perhatikanlah pernyataan dalam Kitab Suci ini, “Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: ‘Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu’. Jawab mereka: ‘Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun’. Lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku’. Jawab mereka: ‘Dia menjadi saksi.’ Lalu berkatalah Samuel kepada bangsa itu: ‘TUHANlah saksi, yang mengangkat Musa dan Harun dan yang menuntun nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir dalam perbudakan Firaun. Maka sebab itu, berdirilah supaya aku bersama-sama dengan kamu berhakim di hadapan TUHAN mengenai segala perbuatan keselamatan TUHAN yang telah dikerjakan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu” (1 Samuel 12:1-7).
Kejujuran dan integritas pribadi Samuel meresap dalam seluruh bidang kehidupannya. Kedua ciri ini menjadi penuntun, bagaimana ia memandang milik pribadinya, urusan bisnisnya, serta perlakuannya kepada mereka yang lebih lemah daripada dirinya sendiri. Samuel menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Ia membuka diri untuk diperiksa dengan cermat oleh setiap orang yang pernah berhubungan dengan dia. Akibat dari kebiasaan itu, kepemimpinan Samuel menjadi legenda yang diceritakan berulang-ulang selama berabad-abad. Ia merupakan salah seorang teladan integritas terbesar dalam Kitab Suci. Ia menunjukkan integritas bukan dengan tujuan supaya dikagumi. Ia jujur karena tujuannya bukan supaya dikenal sebagai orang yang jujur. Ia bertindak adil dan benar karena ia tidak berpikir untuk mengembangkan reputasinya sebagai seseorang yang jujur dan adil. Ia tidak hidup untuk membangun reputasi. Ia hidup untuk Allah. Ia memikirkan kehormatan bagi Allah dan melayani umat Allah. Bagi Samuel, kepemimpinannya adalah pengejawantahan tugas dari Allah, dan melaksanakan kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab adalah merupakan suatu kehormatan baginya.
Teladan yang Nabi Samuel perlihatkan, mengajak kita untuk memakai standar integritas yang sama, yang mungkin istilahnya berbeda dalam masing-masing agama yang kita anut, tetapi maksudnya sama. Karena setiap agama pasti mewajibkan semua umatnya untuk hidup beritegritas dalam setiap tarikan nafasnya. Apapun tanggung jawab kita, apakah itu suatu bisnis berharga triliunan rupiah atau hanya sebuah usaha yang kecil, pelayanan yang besar atau yang kecil, jabatan dalam organisasi atau pun sebagai staf biasa, bahkan tugas-tugas dalam rumah tangga dan keluarga, kelola itu dengan penuh tanggung jawab dan jujur. Itu sudah merupakan bagian dari pengewantahan sebuah integritas. Biarlah komitmen kita untuk menjadi pribadi yang berintegritas tampak pada apa perbuatan dan tingkah laku kita setiap hari, bukan hiasan kata-kata semata tanpa perbuatan nyata. Karena setiap orang pasti akan begitu ringannya mengatakan dirinya berintegritas, meskipun faktanya jauh panggang dari api. Hal ini bukan berarti bahwa kita bisa hidup sempurna tanpa cela, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Sehingga agama mengajak orang-orang untuk menjadi orang yang selalu berbuat baik dan bersikap kasih kepada sesamanya manusia tanpa memandang sekat SARA, dalam pengertian perfeksionisme, tetapi memanggil mereka untuk menjadi teladan yang bertumbuh dalam iman.

Epilog
Di dalam bukunya You and Your Family, Dr. Tim La Haye memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Yang pertama adalah Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral. Yang kedua adalah Dr. Jonathan Edwards, seorang pendeta yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. Jonathan Edwards ini menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Melalui silsilah kedua orang ini ditemukan bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan : 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan : 300 orang pengkhotbah, 65 orang profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan 1 orang wakil presiden Amerika. Dari diagram tersebut kita bisa melihat bahwa kebiasaan, keputusan dan nilai-nilai dari generasi terdahulu sangat mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya. Dari keturunan kedua orang itu juga kita bisa melihat, bahwa keturunan Max Jukes lebih banyak orangnya tetapi berisi manusia-manusia yang tidak berkualitas dan menjadi sampah masyarakat. Sementara keturunan Dr. Edwards, memang orangnya lebih sedikit tetapi menghasilkan manusia-manusia yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama manusia.
Keteladan adalah syarat paling penting bagi seorang pemimpin. Dia harus menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang menaruh hormat kepada orang yang membicarakan permainan yang baik tetapi tidak mengikuti aturan-aturan mainnya. Bagi orang-orang yang dipimpin, segala sesuatu yang diperbuat pemimpin akan berdampak lebih besar daripada yang diucapkannya. Jadikanlah diri kita sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah kita jujur dan bersungguh-sungguh dalam sikap dan tingkah laku kita setiap hari, sehat dan tidak bercela dalam segala hal sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. Janganlah hidup kita dipenuhi dengan nyinyir dan kebencian terhadap sesama, padahal diri kita sendiri bisa dinilai oleh orang lain berdasarkan track record dan perbuatan kita sehari-hari.
Sebagai teladan, orang dapat melupakan sembilan puluh persen yang dikatakan pemimpin, tetapi ia tidak akan pernah melupakan bagaimana kehidupan si pemimpin itu. Kata “teladan” ini dalam bahasa Yunani adalah “tufos” yang berarti “model, gambar, ideal, atau pola”. Menurut pengertian ini seseorang yang berintegritas harus menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan. Menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan inilah yang sekarang ini kita sebut sebagai “integritas”, karena pada dasarnya integritas adalah “satunya kata dengan perbuatan”.
Semoga generasi muda Indonesia kini dan yang akan datang mampu menjadi lebih berintegritas dari generasi sebelumnya. Amin.

Diolah dari Tulisan Samuel T. Gunawan, SE, M.Th: https://artikel.sabda.org/integritas_satunya_kata_dengan_perbuatan


Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Banyak Orang Mengaku Berintegritas



Apakah artikel ini melanggar peraturan (hoax,pornografi,ujaran kebencian dsb) ? Laporkan Admin atau Anda ingin menghubungi penulisnya? Kirim Pesan Ke Penulis


Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







Saran Artikel



gegar budaya (culture shock) orang Sumatera ketika

Banyak sekali,terutama dalam segi adat dan budaya serta kebiasaan sehari hari dan lingkungannya dalam bermasyarakat. ada juga beda makanan dan harga makanan dan minuman yang lebih mahal disumatra dib

Apakah Ada Korupsi Dana Desa?

Antusias masyarakat untuk menjadi kepala desa akhir-akhir ini sangatlah besar, hal ini disebabkan oleh beberapa kepentingan. Yang pertama adalah keinginan membangun desa dan menyumbangkan tenaga dan p

Cara Menjinakkan Kucing Liar

Kucing memang merupakan hewan yang paling lucu dan menggemaskan,jika anda ingin mendekati atau menjinakkan kucing liar berikut ini ada beberapa tips dari pengalaman pribadi saya sendiri. Kucing mema

Peningkatan Kemampuan Menulis Artikel Ilmiah Sains

Putut Marwoto, Achmad Sopyan, Suharto Linuwih, Bambang Subali, Ellianawati Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] A

Lirik Lagu Tolong - Budi DoReMi

Kurasa 'ku sedang jatuh cinta Karena rasanya ini berbeda Oh, apakah ini memang cinta? Selalu berbeda saat menatapnya Mengapa aku begini? Hilang berani dekat denganmu Ingin 'ku memilikimu Tapi a


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum



Hubungi Admin !