pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Budaya Proletar Yang Mungkin Akan Hilang






Pinterduit.com - Hanya ada satu kata, Muak!

Itulah kata paling tepat untuk menggambarkan situasi terkini. Dimana setiap detik, dari arah mana saja, kita di jejali pemberitaan plandemic coved-19 ini. Seakan-akan semua orang harus dan punya kewajiban untuk tahu angka-angka statistik itu!

Rasa-rasanya, ingin sekali saya tuliskan berjuta kata umpatan. Kepada MEREKA, MEREKA, dan MEREKA dalam jejaring grand design ini.

Tapi, mau saya umpatkan kata-kata kasar sampai berbusa-busa sekalipun, tulisan ini nggak akan mampu merubah keadaan menjadi normal lagi.

Ah! Dasar KUNTUL mereka semua!

Era yang sulit yang nggak pernah terbayang, dimana orang-orang harus menjalani kehidupan dengan perasaan serba was-was. Mau keluar sebentar saja, harus mikir dua ratus dua belas kali. Takut inilah, takut itulah.

Saya yakin, semua orang pasti mengutuk plandemic sialan ini. Ya, hanya saja kadang-kadang banyak orang lebih memilih untuk meromantisasi si sialan ini dengan harapan yang bikin diabetes. Tapi nggak masalah, mungkin itu cara mereka untuk menghibur diri.

Melihat semua yang tak kunjung membaik, gaya hidup baru berkemungkinan untuk diterapkan. Bahkan bukan kemungkinan lagi, semua perlahan mulai disiapkan. Menjadi kebiasaan, menjadi sesuatu yang normal.

Yang paling lumrah tentu pemakaian masker.

Kemarin, ketika saya bertemu seorang kawan, dia sempat melontarkan perkataan yang nyata, tapi menggelikan.

"Orang keluar tidak pakai masker, itu kelihatan tabu sekali".

Tabu di mata society. Setara dengan gadis yang hamil di luar nikah. Setara dengan pengidap HIV AIDS. Setara dengan orang pindah agama di mata keluarga dan tetangganya. Dan lain-lain sebagainya. Ah, KUNTUL!

New Normal, istilah yang sedang digaungkan. Ketika NN diterapkan, pasti akan menggeser atau mengalihkan gaya hidup yang veteran. Budaya lama yang punya potensi untuk menyebarkan itu virus, mungkin akan tinggal sejarah di masa mendatang.

Dan dari awal kemunculan virus ini di Indonesia, beberapa budaya proletar yang dulunya sering saya lakukan, mau tak mau harus saya hindarkan untuk sekarang dan sampai waktu yang entah kapan.

Budaya yang sudah lama kita lakukan, yang mungkin menurut orang super higenis, itu sangat menjijikan. Ya, kita mungkin bakal kehilangan budaya-budaya proletarian itu, bung. Di hati terdalam, jelas saya tidak rela. Sama sekali tidak rela, sat!

Sebut saja salah satu budaya proletar yang sering saya lakukan, yakni joinan. Menyebut kata Join, ingatan saya tiba-tiba menuju ke sitkom Dunia Terbalik. Dimana dalam serial itu ada tokoh bernama Bos Adun (seingat saya itu namanya).

Bos Adun ini sering mengucap Join Bisnis. Dengan gaya yang petentengan, setelan selalu rapi dan sok kaya, pipi yang dikembangkan di satu sisi, beliau mengajak orang-orang Ciraos untuk ikut Join Bisnisnya. Bisnis yang tak pernah benar-benar meledak dan menguntungkan. Haha.

Tapi Joinan yang dimaksud saya bukan itu. Ya bagi orang-orang Proletar, wabil khusus laki-laki, pastilah tahu istilah joinan. Kita berbagi satu rokok yang sama, satu gelas kopi yang sama.

Orang-orang super higenis pastilah menolak keras untuk melakukan hal ini. Bayangkan, saya merokok dari bekas bibir kawan yang mungkin tak pernah sikatan dan bau kerang. Membayangkan saja sudah bikin kaum higenislicious muntah-mutah, apalagi melakukan.

Terkadang joinan rokok itu bukan satu dua orang saja. Semisal di kerumunan perkawanan ada lima orang, dan kebetulan semuanya lagi no mooney no party, ya kelimanya ikut menyedot asap dari satu rokok yang sama.

Coba dibayangin lagi mas-mas dan mba-mba yang higenis. Lima bibir menempel di satu batang rokok.

Mungkin salah satu bibir sedang guingen. Satu yang lain baru makan pete. Satu berikutnya tak sengaja menjilat tahi ayam dan satu yang terakhir ada nanahnya. Haha, kau pasti semakin jijik membayangkan. Rasain, anda!

Saya sebagai salah seorang pelaku budaya joinan rokok, tak terpikirkan higenis atau jorok atau apapun itu ketika berbagi satu rokok dengan kawan-kawan. Yang kita rasakan itu nikotinnya. Nggak pernah kita terbayang sediktipun bagaimana rasa bibir dari kawan-kawan bandot itu.

Pelaku joinan rokok pasti paham istilah ngecepoh. Nah, itu yang paling dibenci oleh kaum proletarian ketika joinan.

Ngecepoh merupakan suatu kondisi dimana seseorang ketika merokok meninggalkan bercak-bercak air ludah di pangkal ujung yang dia hisap. Itu sungguh paling menyebalkan.

Sebenarnya kalau dibayangkan ya, joinan rokok itu seperti semi cipokan dengan bandot-bandot tadi. Nggak jauh beda dengan salah satu scene adegan di film Dilan, ketika mereka berdua sun tangan. Ya kurang lebih begitulah kalau mau dibedah secara kasar. Hih. Haha.

Dulu saya pernah lebih ekstrim dari sekedar joinan dengan kawan-kawan yang kenal. Saya pernah dengan sengaja mencari tegesan rokok di jalanan.

Bersama seorang kawan, saya berjalan mengitari kota untuk mencari tegesan penyambung asap ketenangan. Lalu, saya hisap itu tegasan yang entah dari bekas bibir siapa dan peduli setan dengan ragam penyakit dari eks pemilik tegesan itu.

Ya, semua itu menjadi bagian dari sejarah hidup yang harus di simpan dalam artefak kenangan.

Lain cerita dengan joinan kopi. Hampir serupa, tapi ini mungkin jauh lebih tak higenis lagi. Satu gelas kopi, di minum bersama-sama dengan beberapa orang. Kalau menurut kamus zero logic dari Lord Dustin, istilah untuk menyebut kopi joinan adalah Kopi Bram, brame-rame.

Kita tak pernah tahu, dari semua orang yang meminum di gelas itu, tidak bisa menjamin bahwa tidak ada air liur yang sengaja atau tidak menetes dan mengkontaminasi kopi yang suci. Kopi ketetesan air ludah orang, pernah mencoba? Kalau belum pernah, berarti indie mu kurang kaffah, wahai anak senja. Haha.

Saya lagi berfikir, apa lagi ya budaya proletar yang berpotensi punah akibat plandemic ini?

Oh, mungkin melingkar dan meminum cairan penghangat badan. Itu juga mungkin budaya proletar juga, ya? Tapi saya tak pernah melakukannya. Jadi saya tak paham dengan yang begitu-begitu.

Sebab saya ini masih suci, belum ternodai dengan zat-zat kimiawi yang menjadikan ibadah ku terhalang 40 hari. Haha T41.

Oh ya, ada satu lagi. Ini dulu pernah atau bahkan setiap hari saya lakukan ketika menetap di rumah kontemplasi hati nurani alias penjara suci.

Budaya disana, mungkin lebih tepat disebut kebiasaan, ketika jam makan tiba, kami akan menggabungkan bungkus nasi beserta lauk menjadi satu. Porsi jadi lebih banyak.

Kami tak butuh meja untuk meletakan bungkus nasi. Dimana saja, kami tak pernah gengsi dan ragu untuk meletakannya.

Di dekat WC, di dekat tempat pembuangan sampah, di area tanah yang becek atau dimanapun itu, bagi kami tak ada masalah. T41 kucing kehigenisan!

Iya, saya paham. Itu mungkin kebiasaan yang buruk. Tapi, sepengalaman saya, setiap hari makan dengan cara begitu tak pernah sekalipun membuat saya sakit perut.

Tidak pernah sama sekali. Bahkan air yang saya minum pada saat itu ya air ledeng. Air yang multifungsi. Untuk mencuci baju, berwudhu dan untuk minuman juga.

Mau itu dikatakan tidak higenis, tidak sehat atau apapun itu, disana kami semua tetap sehat dan bisa berfikir dengan normal. Tidak ada satu organ tubuh dan juga otak yang terganggu karena kebiasaan yang mungkin orang luar mengatakan "dirty".

Ya kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin kebiasaan yang kurang higenis itu tidak mempan membuat kami sakit perut dan segala macamnya, itu karena ada satu kekuatan yang tak terlihat oleh mata fisikal. Ada satu dimensi yang kami percaya sepenuh hati.

Apa itu?

Adalah barokah.

Keberkahan.

Saya percaya, doa-doa dari orang-orang disana tak pernah surut. Doa-doa itu meninju langit sehingga keberkahan turun untuk semua santri. Keberkahan yang meliputi berbagai macam faktorial. Termasuk kesehatan.

Semua budaya proletarian itu mau tak mau, untuk sekarang ini harus saya hindari. Tidak percaya bahwa corona sebegitu berbahaya, tapi kudu tetap waspada. Seperti kata pepatah, slogan lama yang familiar di telinga kita,

"Mencegah lebih baik daripada mengobati".

Mungkin ini akhir dari nasib budaya proletarian. Mungkin saya bakal kehilangan dan tak pernah lagi melakukan. Mungkin budaya proletar itu akan tinggal sejarah yang kita kenang di masa mendatang.

Mungkin saja, semua itu tak pernah benar-benar terjadi. Dan mungkin kita masih bisa joinan seperti dulu lagi. Semoga, ya.

Segala kemungkinan, masih bisa kejadian. Untuk itu, ingin saya ucapkan kata perpisahan sementara kepada semua budaya proletarian yang tak lagi saya lakukan.

Kepada kamu, budaya proletarian, ku ucapkan,

"Selamat tinggal".


Www.vsdiksi.com

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Budaya Proletar Yang Mungkin Akan Hilang





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







space iklan

Saran Artikel



Biodata BTS Lengkap

BTS (방탄소년단) terdiri dari 7 member: RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V dan Jungkook. BTS debut pada tanggal 13 Juni 2013, di bawah naungan Big Hit Entertainment, dengan single utama ‘No More D

Peluang Bisnis Food Truck Ala Amerika, Apa Cocok D

Salah satu style bisnis street food di Amerika sana ialah food truck. Food truck layaknya warung tenda di pinggir jalan yang biasa kita temui di Indonesia namun bedanya food truck ini menggunakan medi

Cara Menghasilkan Uang Dari Internet Dengan Progra

Halo ketemu lagi dengan saya Eri Nurdiyanto, kali ini kita akan membahas tentang salah satu cara menghasilkan uang dari internet yaitu dengan program mitra quora. Bagaimana cara mendapatkan uang denga

Ini Tentang Konspirasi Covid-19

Saya, orang yang percaya bahwa corona virus adalah konspirasi elit global. Tapi, bukan berarti jika saya percaya konspirasi, maka saya harus anti masker, anti jaga jarak atau anti-anti anjuran WHO yan

Apa yang akan terjadi jika pemerintah sudah tidak

Pemerintah dimanapun sadar bahwa wibawa dan kepercayaan itu penting dijaga. Pemerintah yang punya wibawa dan dipercaya, ucapannya akan ditanggapi serius, himbauannya akan dipatuhi, larangannya akan di


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum


space iklan

space iklan
pinterduit.com