pinterduit blog logo Pinterduit.com

hasilkan uang dari menulis secara online







Home » Umum



Cerita Humor | Menawar Harga Barang Di Mall

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 12 Jun 2020 • 29 Dilihat • publish




Pinterduit.com -
Pada tahun-tahun akhir 1979, di Kalimantan Barat belum ada pasar swalayannya. Semuanya hanya pasar tradisional, yang kalau tidak pandai menawar, maka kita akan kena makan oleh para pedagang yang mengambil untung besar.
Ilustrasinya begini, misalnya harga yang diletakan oleh penjual itu adalah Rp. 250.000 per helai celana panjang. Kita tawar saja Rp. 60.000 untuk satu helai celana itu. Maka setelah melalui proses tawar-menawar yang panjang, rumit, ditambah jurus ngeles seolah-olah mau pergi, maka akhirnya celana itu bisa didapatkan dengan harga Rp. 85.000 saja.
Di masa itu di daerah kami ada seseorang yang bernama Kedong, yang namanya biasa disingkat dengan panggilan ‘Dong’ saja. Dia adalah seorang pemborong yang cukup besar, lumayan mata keranjang, dan isterinya banyak dan anaknya juga banyak.
Suatu saat dia berangkat ke Jakarta untuk jalan-jalan sambil mencari spare part alat-alat beratnya. Mereka berdua gowes ke sebuah supermarket yang sangat ramai di Jakarta Pusat. Pak Kedong sangat senang melihat supermarket yang begitu besar, bersih, rapi, barang yang dijual juga beraneka dan juga cara memajangnya yang artistic. Dia juga sangat menyukai gadis-gadis muda penjaganya yang kebanyakan cantik dan ramping.
Suatu saat dia melihat seorang gadis yang menurutnya paling cantik diantara para penjaga itu, gadis tersebut menjaga sebuah booth pakaian bermerek. Sifat mata keranjang Pak Kedong pun kumat. Dia sengaja mendekat ke sana dan melihat-lihat pakaian di dekat gadis tersebut. Ternyata harganya memang cukup mahal, tetapi masih terjangkau oleh kocek pak Kedong.
“Celana yang ini, boleh ndak harganya sekian saja?” Tanya Pak Kedong sambil menunjukan sebuah celana yang harganya ratusan ribu rupiah. Dia menawarnya seperti cara menawar di pasar tradisional di Kalimantan Barat.
Sang gadis itupun tersenyum mendengar cara pak kedong menawar celana itu. “Mana boleh ditawar gitu, Dong. Disinikan harga pas.” Jelas sang gadis ramah.
“Tapi saya akan beli banyak kalau masih bisa kurang.” Seru pak Kedong masih nekat juga menawar.
“Banyak atau sedikit, itu tetap harga pas, Dong. Tidak bisa dikurangi.” Seru sang gadis masih berusaha menjelaskannya dengan sabar.
“Ooh,” Desah pak Kedong menyerah.
Lalu dia memilih beberapa celana dan baju, setelah menghitung total harganya dalam hati, pak Kedong lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk harga barang itu dan menyerahkannya kepada gadis penjaga booth.
“Aduh, Maaf. Bayarnya bukan dengan saya, Dong. Tuh dengan kasir yang di sana itu.”
“Yang mana?
“Yang dibawah tangga naik.” Seru sang gadis itu menunjuk kearah kasir, sambil tersenyum.
Pak Kedong pun lalu mengajak kawannya menuju ke arah kasir Mall, tapi sambil berjalan dia membisikan kawannya, “Dari Menai ya tahu nama aku, Deh?” (Dari mana dia tahu nama saya, ya?) katanya dalam Bahasa daerah, penuh rasa bangga karena merasa dikenal orang di mana-mana. Kawannya pun hanya diam saja, karena merasa juga akan kebenaran kata-kata pak Kedong.
Padahal itu sama sekali tidak ada kaitannya orang kenal atau tidak. Karena sebutan ‘dong. Dong’, adalah kebiasaan di Jakarta untuk menyapa orang lain. Hanya kebetulan saja nama pak Kedong nya berakhiran ‘Dong’ dan di daerah kami dia sudah terbiasa di panggil ‘Dong’ juga.


Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Cerita Humor | Menawar Harga Barang Di Mall





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code