pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini







Home » Umum



Kisah Santet Bintang Merah

Umum • 22 Aug 2020 • 27 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Real story Santet Bintang Merah
Part 1
Gue Bimo. Anak Pak Yanto. Gue mungkin anak yang biasa aja. Tapi hidup gue luar biasa. Ribetnya. Gue terkadang terjebak di alam yang gak gue pahami saat tidur. Untungnya, gue dibantu temen gue. Crystal dan Lily.




Lily awalnya dimimtai tolong mengantar gue pulang, saat tersesat di kasus #tumbal. Tapi, lama kelamaan dia memilih jadi temen gue. Dan Crystal, temen masa kecil gue. Sejak hilangnya Tina, ingatan gue hilang sebagian. Gue melupakan Crystal beberapa tahun. Sampai saat gue #MencariAnakHilang. Gue mengingat dia lagi.



Kali ini, takdir membawa gue kembali ke masa kecil gue. Memahami santet yang ditujukan untuk orang lain. Tapi, berbelok ke gue. Dan gue, harus menghadapi ilmu hitam yang tidak gue pahami.



Gue akan menulis flashback masa kecil gue di sini. Seperti yang gue bilang di beberapa komentar, Bimo_Story adalah kisah setengah nyata. Semua flashback masa kecil gue ini adalah kisah nyata. Untuk ending cerita ini tentunya gue ceritakan ini. Bukan cuma curhatan doang anjay. Lu pikir gue nulis diare eh diary? Diare sih makan daun jambu biji sekalian daunnya disumpelin ke knalpot.



Ada kegelapan yang harus gue lewati sampai menuju saat seperti ini. Kegelapan yang membawa gue menuju kegelapan orang lain. Untuk menerima kegelapan orang lain, kamu harus berjalan di kegelapan juga bukan? Gue akan bikin sesuai hashtagnya.



_______________________________________________

Malam ditebari milyaran Bintang. Mungkin trilyunan. Gue berdiri menatap angkasa dengan memakai jaket kuning bergambar kodok. Kegedean jaketnya. Gue masih TK saat itu. Dan papap memakai sweater jingga. Menemani gue menatap langit.



"Bim, kamu gak tidur?" tanya papap.



"Enggak pa. " jawab gue



"Lihat apa di langit?" tanya papap.



"Bintangnya banyak pa..." kata gue.



"Kota kita memang jarang penerangan. Kita jadi sulit lihat jalan. Tapi kita bisa lihat bintang-bintang di langit." kata papap. Menerawang atas seakan menahan sebuah rasa.



Hal yang gak dipahami anak TK kayak gue.



"Pa, belum tidur?" tanya gue yang melihat langit.



"Ayah nggak bisa tidur. Ayah, beberapa hari lagi akan kehilangan banyak hal." kata papap.



"Apa aja pa?" tanya gue menatap papap. Gue merasakan sesuatu tapi entah apa itu.



"Ayah, akan menjual toko kita. Semua berakhir karena modal ayah dan ibumu sudah habis. Mobil juga akan ayah jual semuanya." kata papap sambil menatap Bintang.



"Gak ada mobil gak apa-apa. Yang penting masih ada sepeda kita." kata gue yang masih polos kayak kertas HVS. Itu kenapa gue sayang sepeda gue.



"Semua usaha yang ayah bangun berakhir di sini..." kata papap yang masih menatap bintang.



Gue menatap ke atas langit. Beberapa bintang beralih menghiasi langit malam yang ditebari milyaran cahaya. Lalu, sesuatu seperti benang muncul di langit. Berwarna putih dan merah bergerak seperti ular. Saling menari dan bertabrakan.



Mata dan senyum gue terbuka lebar.



"Pa! Pa! Di atas langit ada benang cahaya! Tabrakan terus pa!" kata gue yang berteriak kegirangan.



Papa menatap langit, tapi sepertinya papa gak melihat itu semua.



"Mana Bim?" tanya papap.



"Woah!!!!! Semakin banyak pa!! " gue berteriak kegirangan.



Papap menutup mata. Memeluk gue sambil jongkok. Dan saat membuka mata melihat ke atas, gue merasakan, aura dari papap berbeda.



"Bim, itu bukan benang. Yang kamu lihat, santet." kata papap.



"Santet itu apa pa?" tanya gue.



"Itu kegelapan hati manusia yang dimanfaatkan oleh iblis. Untuk menyakiti sesama manusia." kata papap dengan wajah serius.



Gue terbangun di kegelapan malam. Mimpi anak kecil ya tentang kenangannya. Yah, mau gimana lagi. Salah satu alasan gue suka lihat bintang adalah kenangan itu. Gue Bimo. Saat ini gue kelas TK. Gue keluar kamar melihat ortu gue masih sibuk membangun salah satu usahanya. Agen roti terbesar di kota ini.



"Bim, jam 2 udah bangun sih?" tanya mamam.



"Iya mam. Ga bisa tidur." kata gue.



Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ayah memasukkan semua dagangan ke satu mobilnya yang tersisa. Dari sisa kebangkrutan itu, hanya sisa mobil dan toko satu. Ayah tidak mau menjualnya karena memang ini satu-satunya yang tersisa untuk bertahan.



gue ikut masuk mobil. Ayah masih mempekerjakan beberapa saudara dan sepupu. Menyenangkan sekali. gue tidak perlu merasakan repotnya menjadi manusia dewasa. Hal uang mengerikan rasanya harus membanting tulang dan memeras keringat untuk mendapatkan uang.



Apa enaknya jadi anak kecil? Nyalain TV minggu pagi, liat dorameong. gue ingin terbang bebas di angkasa ..... Hoi! Maling-maling jambu! Udah bisa makan mi sambil minum susu. Habis? Masih ada candybar choco woi! Belum lagi roti dan susu. Tapi tidak terjadi sebelum rutinitas rutin kami.



Seluruh pasar tersenyum pada kami. Dan kami tersenyum kembali. Para kakaks menyiapkan semua dari mobil box ayah. Semuanya sudah ada yang mengurus. Gue? Ayah mengeluarkan Harley Hafidson gue dan gue berdiri di boncengan.



Kami berkendara menembus pagi. Berjalan menyusuri kota yang sepi. Ayah memacu sepeda supaya tidak melewatkan sesuatu. Dan tujuan kami, sebuah pintu air. Jembatan di atas pintu air yang membelah sungai kota ini, kami berhenti.



"Kamu mau lihat sesuatu Bim?" tanya papap.



"Memangnya apa?" tanyaku agak bingung.



Matahari mulai terbit. Muncul di ujung sungai. Matahari. Matahari sepertinya Indah saat terbit. Seperti harapan. Papap tersenyum melihat matahari itu. Gue terlalu senang dan berlari kesana kemari. Kampretnya, kaki gue terperosok sebuah lubang saat berlari.



"Pa! Pa! Kakiku gak bisa keluar!" guemulai panik.



"Ya udah, ganti kakinya kucing aja!" teriak ayah agak tertawa.



"Pa! Ini gimana?" tanya gue.



Papap mencoba menarik kaki gue. Danc*w emang. Ni kaki malah terjepit. Setengah lecet juga endingnya, plus sandal jatuh ke bawah sungai. Gue saat itu nangis. Tapi itu kenangan terindah gue. Sweater papap berwarna jingga. Seperti matahari saat itu.



Yah, hampir setiap pagi gue lalui seperti itu. Tidak ada mimpi buruk yang harus gue lalui. Tapi seperti yang kalian lalui. Seperti yang kalian katakan. Kehidupan seperti roda. Kadang di atas. Dan saat ini di bawah.



Papap membuka gudangnya. Semua roti hilang. Semua modal ayah di situ. Hilang. Hanya satu orang yang memegang kunci lainnya. Tapi semua sudah terlambat. Sudah hancur. Papap bahkan tidak disuplai lagi karena dituliskan memiliki hutang 10 juta. Mungkin saat ini buatku tidak seberapa. Tapi saat itu, 10 juta seharga 4 buah rumah. Semua modal ayah hilang. Bersama dengan masa Indah.



Gue Bima. Terkadang gue dipanggil Bimo. Gue kelas 1 SD. Gue terbangun di pagi yang gelap. Pagi yang sangat gelap. Terlalu gelap buat gue.



"Anak kurang ajar!" teriak Papap.



"BRAK!!!!!!" asbak kaca menghantam kepala gue. Hanya karena gue tak menghabiskan makananku. gue gak bisa. Rasanya sakit di mulut. Sesuatu seperti menusuk bibir gue.



"Heh! Anak setan! Gara-gara kamu lahir gue bangkrut! Sejak kamu lahir, gue sial terus!" kata papap.



Mamam gak bisa membela. Terlalu takut. Gue cuma anak kecil. Gue tau apa. Semua benar-benar nol saat itu. NOL. mobil papap cuma satu, dipakai sebagai mobil carteran untuk antar jemput pun sepi. Mamam berjualan sayur sejak semua 'hancur'.



"To! Anakmu itu! Kalau gak bisa didik, biar gue yang bawa!" kata Om Darman.



gue yang berlumur darah tidak tau harus bagaimana. Matahari terbit itu, seperti legenda. Seperti mitos mungkin. Tidak pernah terjadi lagi. Jembatan di atas pintu air, matahari terbit, sweater jingga dan sepeda ini, semua tidak pernah terulang sejak bisnis terakhir ayah hancur.



Hanya Om Darman dan Om Ardi yang di sana untuk nenek. Gue menatap kosong ke langit. Matahari dan awan yang tak berbentuk seakan hiasan. Kami bahkan tidak sanggup membayar kontrakan, itu yang kudengar dari keluarga lainnya.



Hei, apa yang kebih menyenangkan dari 'melihat burung yang terbang tinggi?'. Yaitu melihat burung tersebut jatuh. Semua menatap kami sebagai keluarga gagal. Tatapan nista dimana gue dan keluarga gue tidak menyakiti mereka. Bahkan memberi kenangan Indah untuk mereka. Pantai, perkebunan, kebun binatang, taman, seingat gue, setiap ulang tahun papap mengajak mereka semua. Kenapa? Kenapa dunia tidak tersenyum lagi sama gue? KENAPA?



Gue hanya anak umur 6 tahun. gue gak bisa memberi jawabannya. Gue bahkan di gendongan Om Darman saat itu. Beliau mengajak gue ke jalan raya.



"Ayahmu banyak pikiran aja. Jangan diambil hati." Kata Om Darman.



"Apa aku anak setan Om? Kenapa aku anak setan?" tanya gue yang masih belum tau masalah banaspati.



"Enggak. Kamu ya anak kakakku. Aku pamanmu." kata Om Darman.



"Tapi aku selalu dibilang anak setan Om." kata gue.



"Enggak. Kamu anaknya bapak ibumu. Siapa lagi coba?" kata Om Darman.



Gue cuma diem. Masih mencoba memikirkan apa yang terjadi sama gue. Salah apa gue? Kelahiran gue cuma membawa masalah?"



"Bim, kenapa gak kamu habisin nasimu?" tanya Om Darman.



"Mulutku sakit Om." kata gue singkat padat mlarat.



Om Darman menyampaikan mulut yang sakit ke orangtua gue. Yah, setiap hari gue dikatain anak setan, dan masih mikir kenapa julukan itu tersemat di gue?



Hampir setiap hari gue alamin pukulan. Baik dengan benda keras maupun tangan kosong. Gue anak kecil tau apa? Bibir atas gue semakin terangkat entah kenapa. Setiap meludah pun darah ikut keluar. Mamam mulai khawatir. Suatu malam, gue dibangunin mamam.



"Bim, buka mulutnya." kata mamam.



Gue mengangkat mulut. Papap mencoba menerangi rongga mulut gue dengan senter. Seperti yang dikatakan iblis saat gue #menatap_seekor_iblis. Gue anak yang memiliki 'taring'. Semua orang punya gigi taring, tapi gue beda.



Bersambung....

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Kisah Santet Bintang Merah





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code