pinterduit blog logo Pinterduit.com

Platform ngeblog asli buatan lokal, menulis itu untuk melepas beban bukan untuk menambah beban







Home » Umum



Filosofi Pancuran Bambu

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 16 May 2020 • 37 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Apakah pembaca pernah memperhatikan sebuah pancuran bambu? Apakah pembaca sama dengan saya, bahwa ada sesuatu yang menarik di sana? Atau justru hasil pengamatan kita berbeda dikarenakan sebuah sudut pandang yang berbeda atau karena perspektif yang berbeda? Namun yang pasti, secara umum pancuran bambu ini ada dua jenis yaitu yang di belah dan yang bulat utuh hanya saja buku-buku bambu yang menghubungkan setiap ruasnya terlebih dahulu dibolongi dengan kayu keras atau alu sebelum dimanfaatkan sebagai pancuran.
Pancuran bambu lebih banyak dijumpai di desa-desa atau kampung-kampung, karena masih begitu banyak sumber air atau mata air dan penduduk menggunakannya sebagai sumber air untuk berbagai kebutuhan terutama sekali untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Sumber air atau mata airnya bisa saja begitu besar atau juga hanya pas-pasan bahkan mungkin sangat kecil bagi pancuran bambunya itu sendiri. Tetapi sebesar apapun atau sekecil apapun sumber mata air itu, maka yang sampai ke rumah penduduk sebagai ujung dari perjalanan air itu melalui pancuran bambu pastilah lebih sedikit atau lebih kecil dari sumber airnya. Hal ini dikarenakan pada setiap sambungan pancuran bambu itu ada air yang menetes atau keluar, baik karena derasnya air yang mengalir ataupun dikarenakan oleh sampah yang tersangkut sehingga membuat airnya meluap keluar. Hal ini akan semakin parah jika pancuran bambu itu sistem di belah, karena dengan permukaannya yang terbuka maka kemungkinan sampah yang terjatuh dan tersangkut di pancuran bambu itu semakin banyak, sehingga air yang mengalir tidak lancar dan ada beberapa volume dari debit air itu yang menetes atau bahkan meluap keluar dan tumpah. Dengan demikian volume air yang sampai di ujung pancuran bambu seperti di rumah-rumah penduduk ataupun di tempat pemandian Bersama sudah jauh berkurang dari volume air di sumber air atau mata air.
Nah, hal itulah yang saya katakan sangat menarik. Karena peristiwa hilangnya debit air dalam perjalanannya sepanjang pancuran bambu itu sama persis dengan apa yang terjadi terhadap dana proyek pembangunan dan proyek apapun di Indonesia. Dana dari pusat katakanlah jumlahnya begitu besar, tetapi yang sampai ke daerah misalnya sebuah kabupaten sudah tidak lagi sebesar itu. Karena konon katanya untuk memperoleh alokasi dana dari pusat itu banyak sekali lika-likunya. Konon katanya ada yang sistem jolok dana pusat, konon katanya ada juga katanya pendekatan terhadap bagian anggaran, konon juga katanya ada juga orang pusat yang punya kewenangan yang cukup besar untuk mempengaruhi keputusan alokasi dana itu. Konon lagi katanya semuanya ini ada bagiannya atau ada fee-nyalah dari nominal dana yang diputuskan, agar alokasi dana itu bisa disetujui. Itu baru di pusat, konon katanya kalau lewat propinsi sewaktu asistensi anggaran itu juga ada janji-janji angin surga, konon katanya oleh DPRD di kabupaten sewaktu mereka meneken RAPBD itu juga ada hak mereka di situ yang konon lagi katanya untuk digunakan sebagai dana taktis agar bisa duduk lagi periode berikutnya dan juga tanda tangan mereka konon katanya berharga miliaran rupiah. Itu konon katanya belum bagian untuk kepala daerah, belum bagian kepala dinas, belum bagian untuk panitia, belum bagian untuk PPTK bagian keuangan dinas, belum bagian untuk keuangan kabupaten, belum untuk kontraktor, belum bagian perusahaan lain yang diminta mengalah agar kontraktor bisa mendapatkan proyek itu, konon lagi katanya belum untuk uang keamanan. Waduh, sungguh capek mengkalkulasikannya, begitu rumit melebihi rumus Albert Einstein.
Itu kasusnya baru di kabupaten, belum yang sudah sampai ke tangan pemborong atau kontraktor yang mengerjakan proyek itu. Maka akan lebih sedikit lagi, karena sudah terpotong di sana-sini. Lebih parah lagi kasusnya jika borongan itu masih disub-kontrakan lagi, maka betul-betul dana itu bisa hilang lebih dari setengahnya. Jadi apa yang digunakan untuk membangun lagi? Padahal sub-kontrkator juga mau untung juga, apa lagi kalau target keuntungannya di patok tinggi, sehingga tidak heran jika sebuah jalan itu sudah di aspal misalnya maka seminggu kemudian sudah bopeng. Karena jalannya bukan lagi di lapis pakai aspal tetapi hanya di cat saja dengan aspal, sehingga ketebalannya kucing terpeleset saja sudah membuat permukaannya retak apalgi jika yang melaluinya sebuah truk dengan kapasitas belasan ton.
Tapi apa yang terjadi dengan bagian-bagian atau pihak-pihak yang mendapatkan aliran dana itu? Ooohhh, hidup mereka sangat makmur. Bahkan mereka mampu mendirikan rumah dengan budget ratusan juta atau bahkan miliran, mereka juga mampu membeli kendaraan dengan harga sampai ratusan juta dan miliaran rupiah. Sementara rakyat menjerit dan tidak mampu membeli beras dan susu untuk anak mereka. Rakyat bergelimpangan dengan kemiskinan, anak-anak kurang gizi, orang tua miskin tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai batas pendidikan yang diwajibkan, sehingga anak-anak itu nantinya mampu mandiri. Jika hal-hal seperti ini tidak segera ditangani dengan serius, maka kita tinggal menanti saatnya saja bangsa ini hancur hancuran. Tapi semoga tidak, ya. Idiih, amit amit, deh.
Lalu apa solusinya? Sebenarnya mudah saja, Pemerintah harus tegas. Jangan peduli siapapun mereka yang membuat kesalahan itu, babat semua dan jebloskan ke penjara tanpa pandang bulu. Sebenarnya penyelidikannya sederhana saja. Berapa sih gaji orang yang bersangkutan, lalu dari mana dia punya uang untuk mendirikan rumah dan membeli mobil seharga ratusan juta bahkan miliran rupiah dan punya tabungan dan deposito yang besar di bank? Sebenarnya semuanya sudah seperti sebuah buku yang terbuka lebar dan kita tinggal membacanya saja. Semuanya sudah terpampang dengan jelas. Langkah awal sebenarnya polisi atau KPK di setiap jenjang pemerintahan setiap bulan harus meneliti perumahan dan kendaraan pribadi setiap pegawai dan juga PPATK memonitor rekening bank mereka serta melihat di mana mereka menyekolahkan anak mereka dan berapa biayanya? Apakah semuanya wajar? Masak seorang pegawai kecil misalnya tapi mampu menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah favorit yang biayanya di luar nalar ataupun sampai menyekolahkan anaknya sampai ke luar negeri?.
Semuanya tinggal kemauan keras kita dan penegak hukum untuk menindaknya, sehingga hal-hal yang seperti itu bisa diberantas. Sebab jika tidak, maka jangan bermimpi Indonesia bisa maju dan bersaing dalam segala bidang dengan bangsa lain di dunia ini. Bukan hanya daya saing kita yang terancam, tetapi juga rasa patriotisme, rasa persatuan dan kesatuan kita juga akan hilang. Karena semua orang sudah memikirkan kepentingannya masing-masing.



Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Filosofi Pancuran Bambu




Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code