Please wait...

Mau pasang iklan atau hasilkan uang dengan berkontribusi menulis konten di situs ini ? Buat akun sekarang





Home » Other » Jika Anak Mu Nakal, Kamu Mau Apa?



Jika Anak Mu Nakal, Kamu Mau Apa?

Jskmrock / Other/ 2020/06/20 22:56 / 29 Views / 2 Like / 0 Dislike




Pinterduit.com - Saya terbiasa menciptakan suatu pertanyaan, lalu berupaya memecahkan jawaban yang menurut saya paling revelan untuk itu persoalan. Seperti kemarin malam, satu pertanyaan membuat jam tidur berantakan. "Bagaimana jika kelak kau punya anak, lalu dia nakal?". Sudah barang tentu, orang tua yang katakanlah breng$3k sekalipun, pastilah mereka tidak ingin anaknya mengikuti jejak langkah kesuramannya. Semisal dia pengedar Tramadol. Dia menikah dan punya anak. Kalau dipikir secara nalar, mana mungkin sih dia ingin anaknya meneruskan bisnis kartel narkoba skala mikro yang dia kelola. Mana mungkin, sat? Wong dia sendiri ketar-ketir takut ketangkap Badan Narkotika Nasional. Tapi hidup selalu punya kemungkinan terburuk. Kalau kata Jeje Boys, hidup itu nggak berjalan mulus seperti lintasan tamia di betis mahasiswi yang diam-diam mencari rejeki tambahan di hotel bintang lima (revisi). Kan katanya juga, anak itu tak beda jauh dengan orang tuanya. Atau ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi, wajar saja jika si pengedar tramadol tadi takut kalau-kalau anaknya nanti besarnya tak jauh beda dengan dirinya. Tapi sebentar. Sebelum sampai kesana, saya ingin membagi kenakalan menjadi beberapa kasta. Pertama, kenakalan remeh. Kedua, tabu tapi bukan kriminal. Ketiga, sudah masuk ranah kriminal. Dan yang keempat atau terakhir, ini sebenarnya paling mengerikan, tapi itu hak personal dan bukan pula kriminal. Jelas kalau yang narkoba tadi, itu masuk ranah kriminal. Entah pengedarnya atau pemakai, sama-sama ditangkap, kan? Sebenarnya kalau hanya pemakai, itu tidak dihukum pelaku kriminal. Dia korban. Korban yang secara sadar memilih jalan ketenangan semu dengan cara tidak sadar. Bingung, ya? Tulisan kali ini, yang saya bahas sebagai muqadimah adalah kenakalan yang sifatnya remeh. Untuk permulaan ya yang paling aman dulu, lah. Masa iya saya langsung bahas raja terakhir? Ya jangan dulu, dong! Kenakalan yang remeh jenisnya macam-macam. Saya ambil satu contoh saja. Yaitu tentang pacaran. Hah? Memangnya pacaran itu termasuk nakal? Bukankah itu hak semua orang? Iya benar. Pacaran itu hak setiap orang. Orang bebas mau menentukan apakah dia ingin berpacaran atau tidak. Oh, ya. Saya tidak bahas pacaran dari segi agama, ya. Kalau dari agama ya sudah jelas. Dilarang karena berpotensi mendekati zina. Dan kalau sudah sampai zina, nah ini masuk kategori dua, yang tabu tapi bukan kriminal. Ini akan dibahas lain waktu. Kita mulai jamah dari sisi anaknya. Bagi si anak, pastilah dia tidak akan menganggap pacaran itu kenakalan. Ya wong dia sendiri menikmati, nyet. Tapi dari sisi orang tua, mana ada yang langsung merelakan anak remajanya jalan dengan teman sebaya mencurigakan lintas gender? Coba kamu bayangkan jadi orang tua. Misalkan kamu punya anak perempuan. Suatu hari, teman lelaki anak gadis mu datang ke rumah. Dia masih bau kencur. Anak sepelantaran SMP atau SMA yang motornya di modif bentuk aneh dan bobokan begitulah tampilannya. Ketika dirumah mu, si anak laki-laki itu terlalu sering garuk-garuk hidung. Wah, naluri suudzon mu pasti sudah mencapai taraf justifikasi yang benar-benar paling benar dan akurat. Nggak mungkin lagi kecurigaan mu salah. Yang jadi pertanyaan, apakah kamu izinkan anak gadis mu keluar dengan si anak tengik itu? Haha. Mungkin kau tegas kan mengatakan, TIDAK! Tapi kasus itu masih mending. Meskipun tengik dan bau sample urine, dia berani datang dan meminta izin kepada mu secara head to head. Anak mu juga terang-terang menunjukan rasa senang. Yang lebih sialan lagi, kalau anak mu dan pacarnya diam-diam berjanji bertemu di suatu tempat dan kau tak mengetahui konspirasi keduanya. Sudah pasti setengah modar kamu tidak merelakan. Nah, Nah, Nah. Sebentar. Sebelum kau memarahi anak mu, kau dulu juga pernah begitu, kan? Kau juga pernah pacaran diam-diam, kan? Lalu, hanya kamu punya kuasa dan berperan sebagai orang tua, jadi kau bisa seenaknya melarang anak mu untuk tidak melakukan apa yang kau dulu lakukan di masa muda? Mungkin kau akan berdalih, ya ini demi kebaikan anak ku. Hei, Bung. Orang tua mu juga dulu begitu. Semua larangan mereka, ya tujuannya hanya satu, untuk kebaikan mu. Tapi apakah kamu nurut? Yakin, kamu bisa memastikan bahwa tak ada satupun larangan orang tua yang kau langgar? Alh, nggak usah menyangkal! Sama-sama tahu dan akui sajalah. Anak itu kalau semakin dilarang, maka dia akan terus mencari celah untuk bisa terbebas dari itu larangan. Kau nggak bisa gunakan cara kuno yang orang tua dulu aplikasikan. Memberi ceramah dan wejangan bahwa pacaran itu haram? Haha. Anak mu pasti ketawa dibelakang. Menceramahi anak itu sangat-sangat tidak efektif! Statement ini mungkin agak sedikit kasar, tapi ya realitasnya begitu. Mau bagaimana? Anak mu mungkin akan mendengar wejangan dan ceramah yang saban hari kau lontarkan. Tapi dengan segenap keterpaksaan sebab mencoba menghargai dirimu yang membesarkannya. Ya hanya sebatas masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Nggak nanjleb dihati. Malah mungkin ia akan muak kalau kau terus-terusan ceramahi. Dan kau, hanya buang-buang energi saja. Sia-sia! Jadi sudah jelas, kau ceramahi dan melarang anak mu pacaran itu tidak efektif. Tetap saja si anak punya potensi pacaran diam-diam. Ini secara umum, loh. Kau tidak bisa sekedar melarang tanpa menanamkan kesadaran. Jika ingin dibedah lebih detail, di dalam larangan itu ada unsur kekerasan, Bung. Tapi ini masih bisa diperdebatkan. Kalau kamu tidak ingin anak mu pacaran sebelum waktunya, katakanlah sebelum usia 18, ya sedari kecil kamu harus menanamkan kesadaran di benaknya. Bisa dengan nasihat agama, sosial atau adat ketimuran. Ingat, dari kecil. Bukan setelah beranjak remaja! Tapi dilema juga, sih. Kadang dari kecil sudah dipupuk nilai-nilai religius, begitu besar jadi ngehe. Ada saja cara anak untuk mengakali ajaran agama. Haha. Terlebih kita belum tahu pasti fasilitas teknologi semacam apa yang akan anak mu dapatkan nanti. Kita harus siap untuk nyalakan tanda bahaya! Dan sejujurnya saya juga bingung, bagaimana mengatasi atau kalau bisa mencegah agar tidak kejadian kenakalan tingkat remeh ini pada anak saya kelak. Meski begitu, nilai-nilai agama yang saya anut sekarang, yang saya yakini sepenuh keyakinan, akan saya tanamkan pula pada anak saya kelak. Semua orang tua pasti ingin anaknya jadi soleh atau solehah. Saya ingin juga, dong! Dan meskipun ketika besar dia mungkin sedikit membelot, tapi karena tertanam sedari dini, mungkin akan ada satu titik dimana nuraninya ingin kembali pada serpihan nilai baik yang menancap di memori masa kecil. Atau paling tidak dia masih dalam batasan 'wajar'. Saya yakin sepenuhnya tentang hal semacam ini. Agama sudah pasti harus ditanamkan. Lalu apalagi, ya? Ya seperti yang saya katakan tadi. Kita bisa memberi pemahaman kepada anak tentang seperti apa sih pacaran itu. Dengan satu catatan, baik dan buruk dari pacaran tak ada yang kita sembunyikan. Kita datang membawa dua kabar untuk anak kita tentang pacaran. Satu kabar baik, yang lain kabar buruk. Dari pengalaman mu berpacaran, kau bisa simpulkan sendiri sisi baik dari pacaran itu apa saja. Misalnya memberi stimulan untuk kamu semangat belajar atau bekerja, ya walau tidak jarang justru cuma jadi beban! Atau terangkan sisi positif bahwa pacaran terkadang memberi ruang untuk mendapat kasih sayang eksternal. Ya, mungkin dulu kau merasa orang tua mu kurang 'sayang', dengan pacaran kau dapat kasih sayang lain yang tak pernah kau dapatkan dari orang tua. Juga misalnya pacaran bisa menjadi simulasi dan tryout untuk kamu menghadapi dan menyelesaikan konflik dalam relasi percintaan di skala yang lebih besar nanti. Dari kabar baik, alihkan menuju kabar buruk. Kabar buruk yang masih ditolerir dan yang keterlaluan atau tabu untuk keluarga dan sosial. Mulai dari pacaran itu buang-buang waktu, buang-buang duit. Pacaran mengganggu jam belajar. Pacaran itu membuat mu tidak produktif. Pacaran juga terkadang mengharuskan mu memilih antara teman atau kekasih pujaan. Pacaran juga kadang mengekang kebebasan dan pergerakan. Dan hal-hal lain yang pernah kau rasakan mengenai keburukan pacaran. Terus, untuk keburukan yang lebih gawat, seperti potensi untuk berzina, jelaskan juga padanya mengenai resiko yang harus dia tanggung jika melakukan. Dari mulanya cuma pegangan tangan, geser sedikit pegang lain organ. Teransang, berlanjut menautkan lips to lips. Lalu mencari tempat sepi, semak-semak atau kalau mampu menyewa penginapan murah, disana terjadi pergulatan yang menggairahkan dan ereksi tak lagi tertahankan. Menjadi 'aman' kalau pakai pengaman atau tidak buang di dalam. Tapi kalau grasa-grusu dan nyemburnya kecepetan, di dalam pula, ini yang menjadi sebab kehancuran hidup berkelanjutan. Hancur karena mahkota terampas oleh orang yang belum tentu sah. Hancur merengut masa muda yang sebenarnya masih bisa having fun bersama kawan-kawan sebaya, tapi harus jadi mama muda yang mengurus anak dan suami tersayang dalam belenggu rumah tangga. Menjadi jalan untuk kehancuran impian, cita-cita dan menanggung malu yang tak pernah berkesudahan. Tenang, ini saya masih menggunakan opini mayoritas. Jadi, kamu tidak akan terlalu kaget sebab tidak terlalu vulgar dan ini masih dalam batas aman. Masih abu-abu dan tidak terlalu gelap. Saya masih punya filter yang berfungsi optimal, paham mana yang sekiranya bisa saya ungkapkan dan mana yang lebih baik jangan. Oh ya, saya lupa. Ini penting untuk saya katakan bahwa tulisan ini bukan motivasi, bukan pengajaran, bukan pula tata cara parenting. Melainkan ini hanya sebuah keresahan yang ingin saya tuangkan kedalam tulisan. Jadi, jika kau tak merasa puas dengan jawaban dari pertanyaan awal yang saya create sendiri, ya wajar. Alasannya satu, saya juga belum nemu dan masih mencari yang paling revelan. Kalau sudah ketemu, saya akan bagikan. Mungkin kau punya jawaban? Silahkan tulis di komentar. Dan karena ini sudah masuk kenakalan kategori dua, yakni yang tabu tapi bukan kriminal, maka saya lanjutkan di kemudian hari saja. Oke ya, sekian dan salam. Www.vsdiksi.com
Bagikan artikel ini




Related Post

  • Step By Step Cara Deposit Saldo Di Indopremier / Ipotgo Untuk Trading Saham Pemula
  • Kumpulan Quotes Orang Orang Yang Sukses Menjadi Kaya, Mulai Bill Gates, Warren Buffet, Jack Ma Dan Lainnya
  • Bagus Mana Sandisk VS Vgen Micro SD Card Dan Cara Mengetahui Asli Atau Palsu
  • Cara Memperbaiki Clipper WAHL Rusak Getaran Lemah , Berisik Dan Tumpul
  • Review TP-LINK CPE220 Bahasa Indonesia, Ini Kelebihan Dan Kelemahannya
  • Review Indo Premier Sekuritas, Kelebihan Dan Kekurangannya, Apakah Terpercaya ?
  • Cara Install Ulaunch PS2 Di Memory Card , Flashdisk Dan Hardisk
  • Cara Mengembalikan Akun PUBG Yang Dibanned Dan Penyebab Akun Banned
  • Analisa Peluang Bisnis Rice Bowl (Donburi) Yang Punya Peluang Dijadikan Franchise
  • Apakah Boleh Nama Rekening Bank Berbeda Dengan Nama Verifikasi KTP Adsense



  • Comments



    No Comment Yet
    Sponsor

    Kategori

  • Advertising (7)
  • Bitcoin (12)
  • Blog (5)
  • Dating (0)
  • Entertainment (4)
  • Finance (4)
  • Forex (7)
  • Game (7)
  • Health (3)
  • IT (17)
  • Make Money Online (22)
  • Movie (0)
  • Other (625)


  • Pengguna Online Hari Ini

    Ghostwriter, Pinterduit Official, Menuju Hidup Lebih Baik, Nafisathallah, Erian Setya,

    Pengguna Baru

    Mr. Blukutuk, Hari Santoso, Ahmad Mulyadi, Erian, psht1922, Sere, Anjaygurinjay, Erian Setya, Jamal, Muhammad Ali Hannapia, S.S, capner info, Affiliate Marketer, Azjio Tech, Kang Marwan, Muh Syarid,