pinterduit blog logo Pinterduit.com

Platform ngeblog asli buatan lokal, menulis itu untuk melepas beban bukan untuk menambah beban







Home » Umum



Para Kepala Kampung | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 15 May 2020 • 32 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Ada sebuah kisah nyata. Suatu ketika di jaman penjajahan Belanda, para kepala kampung di kelompok Dayak Uut Danum yang berada di daerah administratif sungai Serawai (Soravai) dan sungai Ambalau (Momalluh) ikut diundang rapat ke keresidenan di Nanga Pinoh.
Kepala kampung pada jaman itu adalah boleh dikatakan sebagai orang yang mengepalai sebuah kampung, dia berbeda dengan kepala dusun dan kepala desa dewasa ini, karena kalau desa itu terdiri dari beberapa dusun, sementara kalau kampung itu murni satu buah kampung saja.
Para kepala kampung ini sepakat, agar memudahkan pengorganisasian perjalanan, mereka setuju untuk menggunakan satu buah perahu saja, sehingga pada hari yang telah disepakati bersama, merekapun milir ke arah kota Nanga Pinoh. Karena hanya menggunakan perahu yang di kayuh dengan dayung, maka diperkirakan perjalanan mereka sekitar lima hari baru sampai di tempat tujuan. Di pulau Kalimantan, sampai dewasa ini kalau di pedalaman memang mengandalkan sungai jika berpergian kemana-mana, dan pada jaman presiden Jokowilah maka banyak jalan di bangun, sehingga masyarakat bisa berpergian dengan kendaraan darat.
Namun satu hal yang tidak pernah mereka duga, ternyata perahu yang mereka pakai tadi bocor. Meskipun tidak terlalu parah, tapi air masuk cukup deras, sehingga tidak lama air sudah mulai banyak memasuki perahu mereka. Salah seorang dari mereka yang memegang dayung, meminta kepada orang di dekatnya untuk menimba air.
“Tolong timbalah airnya, agar kita tidak tenggelam.” Katanya meminta tolong.
“Eeh, jangan memerintah saya. Saya juga kepala kampung.” Tolak yang dimintai tolong. “Kita satu tingkat. Jadi jangan main perintah.”
Begitu juga halnya ketika yang lainnya meminta tolong kepada kepala kampung yang lainnya, semua pada menolak dengan alasan bahwa dia juga kepala kampung. “Jangan main suruh-suruh. Kita semua di sini adalah kepala kampung, adalah pemimpin, adalah orang-orang yang pintar”. Alasan itu bergema diseantero perahu itu, sehingga tidak ada seorangpun yang mau menimba perahu.
Setelah sekian lama, perahu mereka sudah terisi banyak air sehingga para kepala kampung beserta barang merekapun mulai basah. Celakanya lagi, pada saat itu perahu mereka sudah tiba di bagian kepala sebuah riam yang sangat deras, terjal dan berbahaya. Karena perahu mereka sudah terisi banyak air, maka sangat susah dikendalikan, sehingga Ketika menerjuni riam itu perahu mereka akhirnya menabrak batu dan hancur berderai. Hanya beberapa orang saja yang selamat, yang salah satunya adalah yang bisa menceritakan kisah ini.
Cerita diatas, menggambarkan bagaimana orang-orang sanggup tidak mau melakukan sesuatu pekerjaan demi kepentingan bersama, dengan alasan karena merasa dirinya adalah seorang pemimpin, seorang yang punya jabatan, seorang yang pintar yang punya gelar tinggi, terlepas gelar yang diperolehnya itu adalah hasil membeli ataupun tidak. Tidak ada kerendahan hati, tidak ada kerelaan berkorban, tidak ada kesediaan untuk membantu sesama demi kepentingan bersama. Sehingga akhirnya mereka hampir mati bersama, hanya karena kesombongan dan menganggap dirinya orang hebat dan tidak pantas diperintah-perintah oleh orang lain.

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Para Kepala Kampung | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan




Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code