pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Indihome | Bolehkah Modemnya Tidak Sistem Sewa?






Pinterduit.com - Pada tahun 2014, saya memutuskan untuk berlangganan Indihome dengan paket 10 Mbps, karena paket itulah yang terjangkau kantong. Karena waktu itu tidak ada pilihan seperti sekarang, maka saya harus mengambil paket Triple Play yaitu yang mencakup telepon rumah, layanan televisi interaktif berbasis internet USeeTV, dan router Wi-Fi. Meskipun sebenarnya saya hanya perlu Wi-Fi untuk internetnya saja, karena di rumah kami sudah ada parabola untuk menangkap siaran televisi.

Setelah saya kalkulasikan pemakaian internet satu rumah selama satu bulan jika masing-masing membeli paket sendiri-sendiri, maka masih jauh lebih hemat jika berlangangan Indihome saja. Sehingga berlangganan Indihome yang menggunakan serat optic adalah pilihan yang sangat bijaksana. Jadi pilihan jatuh pada paket Triple Play 10 Mbps, adalah setelah melalui beberapa pertimbangan kritis.

Pada satu bulan pertama, internetnya lancar tidak ada gangguan. Siaran UseeTV-nya pun lancar bin mulus (parabola saya pensiunkan, karena UseeTV lebih banyak channelnya). Anak-anak saya senang, mereka bisa menonton filem sepuasnya, isteri saya senang melihat Discovery Channel (Maaf kalau kita beda, Kami sekeluarga tidak suka Drama Korea). Anak saya yang bungsu paling senang menonton siaran antariksa dan melihat tentang alam semesta yang begitu luas dengan segala kisah perjalanan dan pengiriman wahana jauh ke luar angkasa (sekali lagi maaf, kami bukan kelompok Flat Earth).

Awal bulan ketiga, saya ditelpon oleh SPG-nya (apa boleh di sebut begitu?) yang di Jakarta, saya tahu dari Jakarta karena melihat kode wilayahnya sewaktu menerima telpon. Dia menawarkan kecepatannya dinaikan saja ke 20 Mbps. Alasannya, karena dilihat dari Riwayat aktifitas pemakaian kami, ternyata cukup aktif. Dia juga berjanji, bahwa tarifnya tidak akan dinaikan. Tawaran yang sangat menarik, semenarik suara SPG-nya yang begitu merdu. Lalu saya 'iyakan saja'.

Bulan depannya memang tidak naik, tetapi enam bulan kemudian ternyata naik diam-diam (memangnya mau mengintimi isteri tapi takut ketahuan anak yang tidur di samping?). Entah siapa yang salah, apakah SPG-nya yang berbohong, atau saya yang butek, atau memang ini salah satu strategi Indihome? Anyway, get out of it.

Tidak bisa marah atau complain. Jengkel, tapi tidak berlawan. Karena kalau jika ditelpon, juga dijawab dengan kata-kata yang sudah tersusun rapi dan dihafal. Tetapi karena memang konsumen perlu dan tidak ada pilihan di daerah kami Indihome, yah terserah aja deh. Tetapi rupanya janji-janji manis tadi masih dilengkapi lagi dengan peristiwa menyedihkan berikutnya. Yaitu seringnya akses internetnya jadi lambat, sehingga menunggu file 5 Mb di download saja, kita masih sempat untuk masak nasi dan sayur dulu. Bahkan terkadang juga hang, memang tidak bisa apa-apa. Indikator Androidnya berputar terus, sehingga kepala saya yang puyeng. What could I do?

Di dalam menghadapi pandemi Corona ini, saya kepikiran untuk men-downgrade paket triple play-nya, tetapi kecepatannya tetap 20 Mbps, yaitu hanya ambil paket internetnya saja. Tetapi ketika menelpon, jawaban SPG-nya, letak kantor Grapari tempat bisa mengurusinya adalah di kabupaten lain yang jaraknya lebih 200 km dari tempat saya tinggal. Jarak sebegitu kalau di Kalimantan itu sangat jauh, karena jalannya hanya sebentar-sebentar saja bagus. Lebih sering seperti bekas perang dunia ke dua.

Sepertinya derita anak negeri ini belum juga berhenti sampai di situ, ternyata setelah tiga bulan banyak channel hilang misterius (tidak aktif) tanpa terlebih dahulu ada peringatan dari BMKG (memangnya cuaca). Ketika diklik di channel itu, pasti muncul tulisan mesra agar kita berlangganan dengan biaya sekian-sekian. Boro-boro mau tambah pembayaran, yang dasar ini saja sering nunggak. Soalnya saya tidak bisa minta tolong Kanjeng Dimas untuk menyelesaikan persoalan keuangan ini.

Tetapi masalah downgrade nanti sajalah diurus, setelah pandemi Covid-19 ini selesai. Karena harus touring ke kota lain, perlu persiapan khusus. Yang menjadi masalah krusial sekarang adalah persoalan sewa modem Indihome. Terus terang saja, menurut saya sebuah perusahaan plat merah seperti Telkomsel itu terlalu berbuat nekat, kok tegaan amat sih sama pelanggannya ya. Kita sama-sama warga NKRI, lho. Masa pelanggan harus menyewa modemnya sebesar Rp. 80.000 perbulan. Padahal harga modem merek ZTE itu hanya seratus ribuan lebih saja di pasaran. Artinya biaya sewa selama dua bulan sudah cukup untuk membeli sebuah modem ZTE standar.

Kalaulah memang modemnya itu sudah diinstall program khusus untuk UseeTV misalnya, yah pelanggankan bisa beli saja modem built upnya dari Telkom. Tidak perlu harus menyewa dengan harga yang sangat muuuaaahhhaaaallll begitu. Bayangkan saja, untuk satu orang konsumen selama lima tahun, harus merogoh kocek sebesar Rp. 4.800.000 hanya untuk sebuah modem seharga seratusan ribu lebih. Kalau dikalikan dengan pelanggan Indihome yang (katanya) mencapai 8,4 juta di tahun 2020 ini, maka gross profit Indihome dari sewa modem saja sudah mencapai Rp. 40.320.000.000.000 (40,3 T). Waduh, bukan uang yang sedikit. Kalau dibelikan cendol bisa mencapai 13.440.000.000 gelas, mampu untuk membuat kolam cendol dengan kapasitas 5.376.000.000.000 liter.

Menurut saya, Indihome (baca: Telkomsel) terlalu kejam (maaf kalau istilah saya sadis), demi mengejar Revenue kok haus darah amat sih sama pelanggan. Kan tidak semua pelanggan mau korupsi hanya untuk membayar biaya sewa modemnya. Tidak semua anak negeri ini hidupnya serba berkecukupan, Bro. Bahkan ada yang hanya untuk makan saja sudah kesusahan. Apalagi untuk yang lain-lainnya. Tetapi untuk komunikasi, memang itu suatu keniscayaan.

Ketika sering telat bayar, pasti adalah telpon cinta berkode -021 yang berdering di smarphone. Kalau saya sih jelas tidak saya angkat, karena paling juga mengingatkan kalau pembayaran menunggak. Padahal tanpa dikasi tahu juga kita pasti bayar kok kalau ada duit. Soalnya kita memang butuh. Jadi tidak perlu diingatkan.

Tapi saya tahu pasti, keluhan ini ibaratkan menyiram seember air di gurun Sahara, sama sekali tidak ada efeknya. Tidak akan diperdulikan. Pasti jurusnya ngelesnya karena ini dan itu. Memang ketentuannya gitu kok, Mas. Mau beralih ke provider lain, tapi di daerah kami hanya ada Indihome. Karena Indihome mempunyai jaringan sampai ke daerah-daerah. Atau mungkin juga kalau ke operartor lain itu, (mungkin) sama saja beralih dari mulut singa ke mulut buaya. Atau begitulah mungkin Indonesiaku. Tetapi dengan begini saya puas. Uneg-uneg saya saya muntahkan dalam tulisan ini. Mungkin juga di luar sana banyak yang bernasib sama seperti saya. Tenang Bro and Sis, kita senasib kawan. Setelah 74 tahun Indonesia merdeka, kita sama-sama warga negara +62 yang belum merdeka dari persoalan koneksi internet.

Maaf Indihome ku, kami sebagai pelanggan setiamu hanya bisa bersabar saja, dengan memaklumi apa adanya. Tetapi meskipun demikian, kami berharap dengan amat sangat, agar Indihome sedikitlah berbaik hati dengan mendengarkan keluhan para konsumen mu. Ingatlah, kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, selalu bergantian yang diatas dan di bawah. Perusahaan Kodak yang begitu menggurita saja, bisa bangkrut setelah berusia lebih seratus tahun. Jadi kalau muncul pesaing yang lebih baik, maka jangan heran kalau pelanggan pindah ke lain hati. Karena para pesaing anda, sudah mencatat segala kelemahan anda selama ini, dan mereka siap-siap untuk suatu saat memotong anda di track lurus (Maaf istilahnya, soalnya pecinta MotoGP sih. He...He...He...).

Apa lagi terbersit berita angin surga di luar sana, bahwa pada tahun 2021 Elon Musk CEO Space-X akan meluncurkan layanan internet murahnya. Paket termurah yang dipatok Musk rencananya sebesar US$9,99 dolar AS (sekitar Rp150.000) untuk 1.000 GB dengan kecapatan 10.000 megabyte per second (Mbps). Jauh lebih murah ratusan kali daripada provider di Indonesia dan seluruh dunia saat ini (https://teknologi.bisnis.com/read/20200601/101/1246948/).





Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Indihome | Bolehkah Modemnya Tidak Sistem Sewa?





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







space iklan

Saran Artikel



Jika Anak Mu Nakal, Kamu Mau Apa?

Saya terbiasa menciptakan suatu pertanyaan, lalu berupaya memecahkan jawaban yang menurut saya paling revelan untuk itu persoalan. Seperti kemarin malam, satu pertanyaan membuat jam tidur berantakan.

Sekolah Tinggi Agama Islam Peguruan Tinggi Da'wah

Perguruan Tinggi Da'wah Islam (PTDI) adalah lembaga pendidikan tinggi formal dibawah badan hukum Yayasan Pesantren Islam (YAPIS). PTDI didirikan sejak tahun 1962 dengan SK (Surat Keputusan) Departemen

Ace Combat 5 : Cara Mudah Mengalahkan Scinfaxi Dan

Pada salah satu misi di Ace Combat 5 yaitu kita harus mengalahkan 2 kapal selam yaitu Hrimfaxi dan Scinfaxi. Bagi yang belum berpengalaman mungkin akan mengalami kesulitan karena setiap mendekat, sel

cara awal memulai bisnis untuk perempuan

Ide Bisnis untuk wanita memang cukup banyak. Tetapi terkadang seorang wanita enggan menjalankan bisnis, karena mereka sudah merasa tidak ada waktu. Apa lagi jika seorang wanita harus bekerja. Alasan t

Penyebab Tamper PLN Menyala Dan Cara Memperbaiki

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi kisah mengenai meteran PLN yang error, muncul tulisan periksa , led tamper menyala dan tidak bisa input token. Kejadiannya begini, waktu itu installasi lis


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum


space iklan

space iklan
pinterduit.com