pinterduit blog logo Pinterduit.com

hasilkan uang dari menulis secara online







Home » Umum



Kisah Lucu | Asyiknya Nonton Filem Di Bioskop Tahun 80-an

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 10 Jun 2020 • 33 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Penulis teringat akan pengalaman pertama kali nonton filem di gedung bioskop pada era tahun 80-an, ketika itu masih duduk dibangku SMA di sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Ketika SMA di jaman penulis, mana ada yang istilahnya uang jajan. Uang yang dikirimkan orangtua dari kampung itu sudah satu paket, kayak uang kuliah tunggal saja atau UKT. Kitalah yang pandai-pandai mengelolanya agar cukup makan dalam satu bulan.
Gedung bioskop tempat biasa orang nonton itu dimiliki oleh Bank Pembangunan Daerah atau BPD. Gedung bioskop ini merupakan satu-satunya tempat hiburan umum di kota kecil kami pada waktu itu. Waktu itu belum ada café-café, tempat karaoke, dan jenis hiburan lainnya. Sehingga bioskop ini selalu ramai, lebih-lebih lagi jika pada waktu malam minggu.
Karena tidak cukup uang untuk membeli tiket, penulis tidak pernah menonton di gedung bioskop itu. Padahal seingat penulis, harga tiketnya hanya Rp. 150. saja. Tetapi yang namanya rejeki, pada waktu menjelang malam minggu itu, seorang kawan yang kebetulan kost ditempat salah satu petinggi BPD, mengajak kami menonton. Gratis, tis…tis…tis. Cuma masuknya setelah pintu bioskop ditutup. Kalau ada bangku, ya duduk. Jika bangku penuh, maka kami akan berdiri saja.
Kalau tidak salah, judul filmnya adalah Enter the Dragon, yang dibintangi oleh Bruce Lee. Beberapa hari sebelumnya kawan ini sudah terlalu bersemangat menceritakan kepada kami tentang kehebatan Bruce Lee. Saya hanya diam saja, karena memang sampai saat itu belum pernah menonton filem. Jadi saya tidak tahu siapa itu Bruce Lee. Apalagi di jaman kami SMA itu belum ada media masa dan elektronik seperti sekarang ini, jadi sumber informasi itu sangat terbatas.
Malam minggupun tiba. Setelah pintu bioskop di tutup, maka kami ada lima orang dibawa kawan ini masuk. Kami berlima bediri bersama berpuluh-puluh orang yang ternyata juga masuk gratis, karena indekost dengan petinggi BPD yang lainnya. Sayapun awalnya agak kebingungan melihat di dalam gelap gulita. Memang ruangan untuk nonton bioskop itu beginilah, bisik kawan yang sudah pernah nonton. Agar filemnya bisa terlihat dengan jelas.
Saya melihat dilayar ada sebuah sepeda motor dari sebuah merek sedang naik di tempat yang cukup terjal. Asap tebal dari knalpotnya memenuhi jalan dan akhirnya mogok di tengah jalan. Lalu kemudian lewat lagi sebuah merek sepeda motor lainnya, dia melaju saja tidak terpengaruh dengan terjalnya jalan dan juga tanpa asap. Dia hanya melirik saja ketika memotong pengendara motor yang mogok tadi.
Itukah filemnya? Tanyaku kepada kawan dengan berbisik. Bukan, itu mana suka siaran niaga. Ternyata arti kalimat mana suka siaran niaga itu adalah istilah untuk iklan atau promosi atau advertisement yang dikenal pada jaman sekarang. Baru saya ingat sekarang, kedua merek sepeda motor itu memang bersaing dalam penjualannya sampai ini.
Ayo, diam. Filemnya sudah mulai, bisik kawan yang berdiri di sebelah tadi. Sayapun dengan serius memperhatikannya. Ceritanya tidaklah jauh dari bak-bik-buk, namanya juga filem Kung Fu, bukan film India yang berjoget dulu baru berantem. Setelah beberapa lama, penonton dalam bioskop yang duduk itu pada berdiri semua. Lalu mereka bertepuk tangan dengan riuh, bahkan ada yang berteriak-teriak kegirangan. Sayapun ikut-ikutan bertepuk tangan karena melihat kawan-kawan juga bertepuk tangan. Saya pikir itu adalah tata cara menonton film di bioskop, ternyata itu adalah kebiasaan di masa itu ketika pendekarnya sudah datang.
Setelah filem usai, penonton pun pada keluar. Saya melihat, hampir semua penonton laki-laki, lebih-lebih yang anak-anak muda menggerak-gerakan tangan mereka meniru gaya di filem tadi. Mungkin semuanya sudah merasa diri seperti pendekar tadi (baca: Bruce Lee).
Sampai ke asrama pun, sudah larut malam penulis tidak bisa tidur. Selalu terbayang gerak-gerakan di film itu dan juga akan kehebatan pendekarnya. Dasar penulis memang anak dari kampung, padahal itu toh cuma film. Bukan sebuah kisah nyata.

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Kisah Lucu | Asyiknya Nonton Filem Di Bioskop Tahun 80-an





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code