pinterduit blog logo Pinterduit.com

hasilkan uang dari menulis secara online







Home » Umum



Kisah Misteri Kalimantan | Tradisi Perang Meriam Karbit di Kota Pontianak

Menuju Hidup Lebih Baik • Umum • 8 Jun 2020 • 34 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Pada malam bulan puasa Ramadhan terakhir sebelum malam takbiran di tahun 1986, saya tidak dapat tidur pada malam harinya, karena bunyi ledakan yang bergemuruh secara sahut-menyahut dengan getaran tanah yang luar biasa kuatnya sepanjang malam. Bahkan kaca jendela rumah kost yang kami sewa sampai retak saking kuatnya getaran itu. Kebetulan rumah kos yang kami sewa itu berjarak sekitar 80-an meter dari tepian sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 km. Saat itu adalah di tahun kedua masa studi saya di Universitas Tanjungpura, sebuah perguruan tinggi negeri di kota Pontianak.
Sebenarnya sungai Kapuas yang melewati kota Pontianak ini adalah bagian aliran sungainya yang kecil, karena bagian sungainya yang paling besar mengaliri bagian lain dari delta kota Pontianak ini. Sungai ini berpisah di Suka Lanting, yaitu di bagian hulu kota Pontianak yang berjarak sekitar 49 km dari kota Pontianak. Tapi meskipun kecil untuk ukuran pulau Kalimantan, lebar sungai Kapuas di Pontianak ini lebih dari 400 meter, mengingat jembatan Kapuas I yang menghubungi Kota Pontianak dan daerah Tanjung Hulu panjangnya 420 m, sementara itu adalah bagian yang sempit.
Ketika pagi harinya, saya berusaha mendapatkan informasi terkait peristiwa semalam. Sehingga siang harinya, saya berbicara dengan tetangga yang kebetulan asli Melayu kota Pontianak. Saya bertanya, ada apa sih itu suara ledakan bergemuruh tadi malam, sampai begitu hebat getarannya, sehingga seperti gempa bumi (kira-kira sih, karena saya tidak pernah juga mengalami getaran gempa bumi). Tetangga yang berusia sekitar enam puluhan ini bercerita, bahwa tadi malam itu adalah perang meriam karbit antara penduduk kota Pontianak yang bermukim di sungai Kapuas sebelah kiri dan sungai Kapuas sebelah kanan. Dulunya Meriam itu terbuat dari bambu betung, sejenis bambu yang ukurannya sangat besar. Tetapi dibandingkan Meriam yang terbuat dari kayu, maka bahan dari bambu ini kalah jauh, baik dari segi volume diameter maupun kekuatan suaranya.
Bapak ini melanjutkan ceritanya, bahwa dulunya penembakan itu adalah menggunakan Meriam benaran, karena menurut cerita para orang tua, awalnya ketika sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kota Pontianak saat menyusuri sungai Kapuas dalam rangka syiar agama Islam dan mendirikan kota Pontianak 249 tahun lalu, sering diganggu hantu kuntilanak. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie mendirikan kota Pontianak pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 atau 14 Rajab 1185 H (https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pontianak). Pada awalnya, beliau terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu kuntilanak itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting, tempat berdirinya istana Kadriah, istana kesultanan Melayu paling besar di provinsi Kalimantan Barat (https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pontianak)
Kegiatan perang Meriam karbit itu adalah dalam rangka mengingat peristiwa itu, diinkulturasikan dengan syiar agama Islam dan aktifitas puasa umat Muslim di bulan Ramadhan serta menyatakan kemenangan melawan hawa nafsu setelah menjalani puasa selama sebulan penuh. Namun sekarang, saya tidak pernah lagi mendengar ledakan sekeras tahun itu, karena konon katanya ada kesepakatan untuk membatasi kekuatan ledakan dan kekerasan suara Meriam karbit itu dari maksimal diameter meriamnya. Memang pulau Kalimantan dari jaman dulu sangat terkenal akan hantu kuntilanaknya, sehingga semua daerah baik yang penduduknya Dayak maupun Melayu, pasti punya cerita tentang hantu kuntilanak ini dengan berbagai macam cerita dan dengan versinya masing-masing. Khusus untuk kota Pontianak, sebenarnya nama Pontianak pun berarti kuntilanak. Penduduk tetangga kita di Sabah, Malaysia, sampai saat ini tetap menggunakan kata Pontianak untuk menyebut hantu kuntilanak. Dalam Bahasa Tionghoa yang merupakan penduduk terbesar ketiga setelah Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat, dari dialek Tio Chiu dan Hakka (kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia adalah berasal dari pengguna kedua dialek ini), Pontianak di sebut Kuntien atau Kuntian yang berarti hantu kuntilanak dalam logat Tionghoa, karena dipengaruhi dari kata Kui yang artinya hantu juga. Maka sebenarnyalah bahwa kota Pontianak itu adalah kota ‘hantu’.


Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Kisah Misteri Kalimantan | Tradisi Perang Meriam Karbit di Kota Pontianak





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code