pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Kisah Nyata | Menangkap Ikan Dengan Kelambu






Pinterduit.com -
Ketika SMA, kami bersekolah sangat jauh dari kampung kami sendiri, karena dikampung kami sekolah yang ada itu hanya sampai SD saja. Jaraknya sekitar 200 km sungai. Kami tinggal di sebuah asrama yang dikelola oleh Pastoran Katolik. Ada sekitar 64 orang yang tinggal di situ. Kalau tidak salah, waktu itu uang asramanya hanya Rp. 1.500. perbulan.
Kami berdua sudah dua bulan tidak mendapatkan kiriman uang dari orangtua. Untung beras masih ada, sehingga masih bisa tetap makan, meskipun tanpa sayur. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan musim kemarau panjang, karena pada saat air surut, sungai sangat susah dilayari. Sungai yang kering menjadi masalah di daerah kami, karena moda transportasi pada waktu itu hanya melalui sungai.
Kami sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan orangtua di kampung. Karena satu-satunya sarana komunikasi waktu itu adalah melalui surat. Itupun paling cepat satu bulan baru bisa sampai ke kampung. Celakanya lagi, surat dikirimkan oleh PT. POS Indonesia via perahu bermotor, yang juga harus melalui sungai.
Pada suatu malam minggu, kami berdua betul-betul sudah sangat lapar, nasi sudah ada tetapi tidak ada sayur. Kami berdua sangat kebingungan, karena capek juga selalu makan campur garam yang berkuah air putih.
Tiba-tiba saya mendapatkan ide, bagaimana kalau kami menangkap ikan di sungai menggunakan kelambu kawan saya itu. Dia punya kelambu plastik yang masih bagus, sementara saya tidak mempunyai kelambu, karena waktu itu harganya lumayan mahal untuk kantong saya.
Awalnya kawan ini menolak, karena khawatir kelambunya bakalan koyak dan tidurnya nanti bagaimana karena kelambunya akan basah. Pertama saya meyakinkan dia, kalau kami harus melakukannya dengan hati-hati, sehingga kelambunya tidak akan koyak. Yang kedua, itukan kelambu plastik tipis, jadi basah juga tidak apa-apa, karena air tidak akan lengket. Hanya dikibas-kibaskan saja sudah kering sehingga bisa langsung di pakai lagi malam itu juga. Selain itu sekalian mencuci kelambunya yang sudah berbulan-bulan tidak pernah di cuci.
Singkat cerita, setelah kawan menyetujuinya kamipun berangkat mencari ikan ke sungai yang jaraknya sekitar 400 meter dari asrama. Kami membawa kelambu itu, sabun mandi dan deterjen, pakaian ganti, lampu senter, ember plastik untuk tempat ikan nantinya, dan parang untuk antisipasi bertemu binatang buas seperti ular atau buaya. Sesampai di sungai, kami berdua menyusuri pantainya sambil menangkap ikan menggunakan kelambu kawan ini.
Setiap musim kemarau, ikan bilis air tawar banyak berkeliaran di tepi pantai jika malam hari. Sehingga pada malam itu hanya butuh sekitar satu jam saja, ada sekitar satu kilogram kami dapat. Kami berdua langsung membersihkan kotoran ikan itu dengan memijit perutnya, di cuci bersih lalu pulang. Tak lupa juga mandi dan kelambu kawan ini kami gosok dengan deterjen agar tidak bau amis.
Kami berdua memasak ikan bilis itu dengan bumbu-bumbu seadanya, yang penting tidak terlalu bau amis, setelah itu makan sampai kenyang.
Begitulah yang kami dua lakukan sepanjang sisa kemarau panjang itu, sehingga kami berdua tidak kekurangan sayur lagi.


Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Kisah Nyata | Menangkap Ikan Dengan Kelambu





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







space iklan

Saran Artikel



Pelajaran Keliru Yang Diajarkan Saat Sekolah

Sekolah adalah tempat diadakannya pendidikan formal bagi para siswanya. Mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA bisa disebut sebagai pendidikan dasar yang diwajibkan pemerintah demi meningkatkan mutu SDM raky

Mungkinkah Pasien Covid 19 Di Indonesia Meledak di

Berbagai hal menarik mungkin akan terjadi sebagai side effect dari implementasi Permenhub No. 25/2020 tentang pengendalian transportasi selama Masa Mudik Idulfitri 1441 Hijriyah. Rincian untuk kendara

Kisah Keutamaan Istighfar

KISAH KEUTAMAAN ISTIGHFAR Bagi kita yang beragama islam sudah pasti tidak asing dengan lafadz Istighfar. Seusai melakukan shalat umat muslim sebaiknya jangan terburu-buru untuk beranjak, sempatkanlah

Apakah Ada Korupsi Dana Desa?

Antusias masyarakat untuk menjadi kepala desa akhir-akhir ini sangatlah besar, hal ini disebabkan oleh beberapa kepentingan. Yang pertama adalah keinginan membangun desa dan menyumbangkan tenaga dan p

Quo Vadis Setelah Tamat SLTA?

Quo vadis adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah berarti: "Ke mana engkau pergi?" (https://id.wikipedia.org/wiki/Quo_vadis). Sehingga judul diatas kurang


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum


space iklan

space iklan
pinterduit.com