pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini







Home » Umum



Kisah Nyata Misteri Dari Kalimantan | Belum Saatnya Mati

Umum • 8 Jun 2020 • 37 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami almarhum ayah ketika sakit keras sekitar tahun 1965, yaitu 55 tahun yang lalu. Pada waktu cerita ini dialami almarhum ayah, saya baru berumur dua tahun. Saya baru ingat jelas akan cerita ini ketika ayah menceritakannya di saat saya sudah berumur belasan tahun dan terus saya ingat sampai sekarang.
Ayah saya sudah meninggal dunia pada bulan januari tahun 2016, dalam usia 74 tahun. Jauh lebih muda jika dibandingkan usia kakek dan nenek sebelah ayah ketika meninggal, karena almarhum kakek meninggal dalam usia 115 tahun dan almarhumah nenek meninggal dalam usia 95 tahun. Sementara sebelah almarhumah Ibu, semuanya meninggal dalam usia muda, nyaris tidak ada yang mencapai umur 50 tahun.
Kisahnya begini. Ketika itu ayah sakit keras dan tidak tahu apa penyakitnya, karena pada waktu itu belum ada dokter, mantri ataupun tenaga kesehatan di kampung yang bisa memeriksa penyakitnya. Jarak kampung kami dari ibu kota kabupaten adalah sekitar 250 km melalui jalur sungai. Jangankan pada waktu itu, sekarang saja ke kampung kami itu jalan daratnya masih jalan rintisan, jalan tanah kuning yang tidak bisa dilewati jika musim hujan.
Pada waktu itu, untuk pulang pergi ke kota kabupaten, kami harus melayari sungai Melawi yang merupakan anak terbesar dan terpanjang dari sungai Kapuas. Panjang sungai nya yang bisa dilayari diperkirakan sekitar 450 km. Perjalanan ke kota Kabupaten, kami lakukan hanya dengan menggunakan perahu bermotor diesel atau terkadang juga perahu bermesin tempel atau biasa di sebut speedboard atau juga outboard motor.
Jika menggunakan perahu bermotor diesel, jarak sejauh itu dapat kami tempuh selama empat hari perjalanan. Tapi jika menggunakan speedboard, bisa dicapai dalam dua hari saja. Malahan dengan menggunakan body terbang 40 HP (istilah masyakarat untuk speedboard body pendek) sekarang ini, jarak itu bisa di tempuh hanya dalam waktu 9 jam perjalanan saja.
Lanjut ke cerita saya tadi, ayah sudah sakit selama berbulan-bulan, badannya sudah kurus kering karena kurang makan, tidak bisa bekerja dan pengobatannya hanya mengandalkan obat-obatan tradisional dan tenaga kesehatan tradisional di kampung. Sudah cukup banyak orang pandai yang datang untuk mengobati dia, tetapi belum juga membaik. Segala ramuan yang menurut orang-orang bisa mengobati berbagai macam penyakit sudah di coba, tetapi semuanya tidak berhasil. Sampai suatu saat akhirnya ayah pallusch ballang (mati tetapi beberapa lama kemudian hidup lagi). Dan sinilah kisah ini berawal.
Ayah merasa tiba-tiba tubuhnya terasa ringan, lalu melayang ke udara, terus terangkat sampai menembus atap rumah. Tetapi anehnya, dia sama sekali tidak merasa sakit. Bahkan dari atas dia bisa melihat tubuhnya tergeletak di bawah. Tak lama kemudian dia melihat anggota keluarganya berkumpul dan menangis meraung-raung, sementara dia sendiri tidak merasa apa-apa. Tidak ada perasaan sakit ataupun sedih melihat kondisi dirinya yang tergeletak di bawah dan ditangis oleh pihak keluarga. Dia berusaha berteriak untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi sepertinya tidak ada keluarganya yang mendengarnya, padahal dia sudah berusaha berteriak sekuat tenaga agar mereka mendengarnya.
Tubuhnya terasa terangkat, terus terangkat, tinggi dan tinggi sekali. Perasaannya hanya nyaman, tenang, tidak ada rasa sakit, tidak ada ras cemas dan segala perasaan susah lainnya. Semuanya Bahagia dan nikmat, sama sekali tidak ada beban. Setelah beberapa lama terangkat, tiba-tiba dia merasa dirinya terdampar di sebuah daratan luas yang entah di mana letaknya. Dihadapannya terpampang sebuah jalan yang besar sekali, bahkan besarnya ruas jalan itu tidak pernah dilihatnya seumur hidupnya. Jalannya bukan hanya besar, tetapi juga panjang sekali sehingga tidak tampak ujungnya.
Di jalan itu ternyata ramai sekali orang berjalan, orang-orang berbicara dan bersendau gurau, tertawa-tawa dan semuanya tampak senang sekali. Bahkan beberapa keluarga yang sudah meninggal begitu gembira menyambut kedatangannya. Setelah itu mereka membawanya menuju ke arah ujung jalan besar itu. Jalan itu tampak sangat panjang, sangat jauh, dan seperti tidak berujung. Hanya saja di bagian ujung sana tampak seberkas sinar terang benderang tetapi tidak menyilaukan. Menurut kepercayaan agama Kohoringan (Kaharingan, sekarang menjadi agama Hindu Kaharingan), yaitu agama asli masyarakat Dohoi Uut Danum sejak ribuan tahun yang lalu, jalan ini dipercaya sebagai jalan ke Lovu’Lliou atau jalan ke dunia orang mati.
Di dalam perjalanan mereka ke arah ujung jalan, di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ada bagian yang agak menyempit dan almarhum ayah melihat terdapat sebuah pohon langsat yang sangat besar tumbuh di situ, tumbuhnya di tebing dan batangnya melintang di tengah-tengah jalan dan tidak ada tempat untuk lewat selain tempat itu, karena di kiri dan kanannya tebing yang sangat tinggi. Setiap ada orang yang lewat, maka batang langsat itu akan beraksi, tetapi reaksinya tidaklah sama untuk setiap orang. Ada orang (baca: arwah) yang dibiarkannya lewat begitu saja, tetapi ada juga yang tidak diijinkannya lewat. Karena begitu seseorang mau menunduk, maka batang langsat itu turun menghalangi, tetapi begitu orang mau meloncat keatas, batang langsat itupun juga lalu terangkat keatas menghalangi.
Konon menurut kepercayaan dalam agama Kohoringan (dialek Dohoi Uut Danum Kalimantan barat dalam menyebut Kaharingan) pohon langsat ini di sebut dengan Llihhat Mohpit atau batang langsat yang bisa turun-naik, yaitu untuk menentukan apakah seseorang itu sudah saatnya untuk ke alam baka atau belum. Jika seseorang memang sudah saatnya untuk meninggal, maka batang langsat ini akan membiarkan seseorang itu melewatinya. Tetapi jika seseorang itu belum saatnya untuk mati, maka batang langsat itu akan menghalangi orang tersebut untuk lewat. Caranya, yaitu jika dia mencoba membungkuk, maka batang langsat itu akan turun sehingga tidak ada tempat untuk lewat, tetapi jika dia berusaha naik ketas maka batang langsat itu akan terangkat juga ke atas sehingga seseorang itu tetap tidak bisa lewat.
Anehnya, sewaktu almarhum ayah lewat, batang langsat itu membiarkannya saja, tidak ada upaya menghalanginya seperti beberapa orang yang terdahulu. Almarhum ayah pun terus berjalan bersama para keluarganya menuju ke arah ujung jalan yang dipenuhi cahaya terang benderang itu. Tetapi tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba dari dalam cahaya yang terang benderang itu muncul seekor kepiting raksasa, kedua capitnya saja sebesar tempayan besar dan tingginya mungkin mencapai 15 atau 20 meter. Dia segera menuju ke arah almarhum dan membentak, “hey kamu … (sambil menyebut nama almarhum ayah), mengapa kamu ke sini. Ayo pulang. Belum saatnya kamu ke sini”. Katanya dengan suara menggelegar.
Almarhum Ayah tentu saja sangat ketakutan melihat kepiting sebesar itu, apa lagi suaranya menggelegar seperti suara petir. Para keluarganya yang berjalan bersamanya juga langsung lari tunggang langgang, sementara ayah juga berusaha berlari mengikuti mereka. “Heh, kamu dengar tidak. Aku bilang kamu pulang sekarang! Hayo kembali ke arah jalan kamu datang tadi” bentak kepiting raksasa itu lagi sambil berdiri mengancamnya dengan capitnya yang besar. Lalu ayah pun langsung berbalik belakang dan berlari pulang ke arah jalannya datang tadi. Dalam upayanya menyelamatkan diri itu, kakinya tiba-tiba tersandung sebuah lesung tepat di tulang keringnya, sehingga dia kesakitan dan tiba-tiba terbangun dalam keadaan Lelah. Lalu dia melihat begitu banyak orang yang sedang menangisinya.
“Hey, si Anu … (sambil mereka menyebut nama ayah)… Dia hidup lagi. Dia hidup lagi!”. Teriak beberapa orang diantara mereka. Para orang yang tadinya menangis sedih, sekarang malah menangis bahagia melihatnya membuka matanya kembali.
“Hey, mengapa tulang keringmu benjol? Tanya mereka ketika melihat tulang kering ayah bagian depannya benjol sebesar buah manga. Ayah belum mampu menjawab, tetapi pikirannya lalu teringat ketika sedang berada di dunia orang mati tadi, dia merasa menabrak sebuah lesung untuk menumbuk padi.
Mereka segera mengambilkan bubur dan memberi ayah minum. Ketika merasa sudah cukup kuat, kurang lebih beberapa jam kemudian ayah lalu menceritakan peristiwa Pallusch Ballang-nya.
Beberapa hari kemudian, seorang paman ayah kebetulan baru pulang Nomuoi (merantau) dari Kalimantan Tengah, pulang ke kampung kami. Menurut orang-orang kampung, dia orang yang cukup berilmu. Singkat cerita, dia menyanggupi untuk mengobati ayah.
Besok harinya, kakek itu datang untuk mengobati ayah. Cara pengobatannya adalah denga cara di pohpasch, yaitu menggunakan daun Savang (daun Andong) berwarna hijau, seekor ayam jantan berwarna hitam, dan seberkas pusaka. Di mana alat-alat ini terlebih dajulu disucikan dengan darah ayam dan babi. Sebelum di pohpasch, tubuh ayah di gosok dengan semacam minyak yang berisi obat-obatan mistik, menggunakan hanya jari tengah, jari manis dan induk jari, dengan arah dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Lalu ayah di suruh mengenakan pakaian yang bersih. Dia di suruh berbaring diatas tikar yang bersih dan belum pernah di pakai, di mana keluarga kamilah yang di suruh untuk memastikan bahwa tikar itu memang bersih. Katanya agar jelas terlihat benda-benda yang menyebabkan dia sakit. Kemudian paman ayah atau kakek saya itu melaksanakan pohpasch tadi, sampai tujuh kali gerakan ke arah matahari terbenam, disertai mantera-mantera dalam Bahasa daerah.
Setelah Gerakan pohpasch-nya selesai, ayah diminta bangun dengan dibantu pihak keluarga. Lalu tikar tempat ayah berbaring tadi digulung dan dituangkan sambil digetarkan ke atas sebuah mangkuk yang telah disi air bersih dan bening. Kata ayah, mereka melihat banyak sekali benda berjatuhan keatas mangkuk bersisi air itu, ada yang sudah mati tetapi ada juga yang masih bergerak-gerak. Menurut kakek yang mengoabti ayah, itulah benda-benda yang menyebabkan ayah sakit. Benda-benda itu dikirim oleh seseoarang yang sakit hati mendengar kata-kata ayah yang menyinggungnya. Kakek mengingatkan ayah, kalau berbicara dengan orang, lain kali jaga kata-kata. Jangan sampai menyinggung orang lain.
Pengobatan itu dilaksanakan selama tiga hari pada waktu sore. Pada sore hari pertama, malamnya ayah bermimpi rumah kami di sambar petir. Pagi harinya ketika keluarga memandang ke arah hilir rumah yang kebetulan merupakan arah matahari terbenam, ada tiga batang enau kami roboh seperti terkena hantaman badai, padahal cuaca baik-baik saja. Tidak ada hujan ataupun angin ribut.
Setelah tiga hari pengobatan, kesehatan ayah perlahan-lahan membaik dan beberapa bulan kemudian sudah betul-betul sehat. Sejak saat itu, tidak pernah lagi ayah mengalami sakit keras.


Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Kisah Nyata Misteri Dari Kalimantan | Belum Saatnya Mati





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code