PinterDuit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Memahami Rasisme






Pinterduit.com - “Tidak jarang diskriminasi rasial terjadi karena dukungan Pemerintah melalui berbagai kebijakan pemisahan dan pengucilan, dalam bentuk penyebaran doktrin-doktrin supremasi ras, warna kulit, keturunan, asal-usul kebangsaan, atau etnis,". Demikian kutipan kalimat pembuka dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (ICERD/International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination).

Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi konvensi ini melalui UU Nomor 29 Tahun 1999, tentang pengesahan international convention on the elimination of all forms of racial discrimination 1965.

Bila kita lihat, konvensi ini betul-betul mengutuk keras diskriminasi rasial yang diwujudkan dengan pembedaan, pengucilan, pembatasan, atau bahkan preferensi yang didasarkan pada ras, warna kulit, keturunan, asal-usul kebangsaan, atau etnis, kepada siapapun dengan dalih apapun, baik terhadap warga negara maupun bukan warga negara. Konvensi pun menyadari bahwa tidak jarang diskriminasi rasial tersebut, terjadi karena dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan.

Rasisme dipahami tidak sebatas mengucilkan salah satu ras maupun etnis, melainkan lebih luas daripada itu. Rasisme harus dipahami sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari diskriminasi berdasarkan pemisahan (segregasi) rasial dan tidak terjaminnya kesempatan salah satu kelompok masyarakat untuk menikmati hak-haknya.

Dan, negara yang telah meratifikasi hasil konvensi tersebut wajib mengutuk segregasi rasial dan bertindak untuk mencegah, melarang, dan menghapus seluruh praktik diskriminasi rasial di wilayah hukumnya.

Jika pemerintah melakukan pembiaran terhadap diskriminasi rasial yang berulang tanpa tindakan pencegahan, tak salah jika kita menganggap bahwa pemerintah adalah dalang di balik masalah rasisme selama ini.

Tindakan Tegas
Memperhatikan diskriminasi rasial yang terjadi pada Papua atau bahkan pada masyarakat adat secara umum, saya berkesimpulan bahwa pemaknaan terhadap bangsa lebih tepat ditafsirkan sebagai ajaran yang 'dirancang' daripada pengertian bangsa sebagai komunitas etnis yang telah mapan dan turun temurun.

Nasionalisme seolah mewujud dalam pernyataannya: right or wrong is my country, bukan right is right dan wrong is wrong. Dengan kata lain, yang penting kesatuan harga mati meskipun itu dilakukan dengan cara yang tak manusiawi. Setidaknya dapat kita lihat pada sejarah pembentukan negara-bangsa sebagaimana terjelaskan di atas.

Stereotip masyarakat terasing, komunitas adat terpencil, masyarakat tradisional, dan pribumi yang mengucilkan salah satu kelompok masyarakat, seakan dibiarkan oleh pemerintah untuk berkembang. Bahkan, narasi ini kerap digunakan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan regulasinya sampai sekarang. Parahnya, stereotip itu kerap diiringi dengan agenda dekulturisasi dan perampasan hak berkedok pembangunan.

Tak heran jika rakyat Papua menuntut haknya untuk merdeka, bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Tapi yang perlu kita pahami, bahwa referendum Papua tidak semata mengakhiri diskriminasi rasial yang telah menjadi habit di Indonesia.

Sebagai negara yang menjalankan proyek Bhinneka Tunggal Ika, seyogyanya pemerintah tidak sekadar meminta maaf, lalu menganggap persoalan rasisme telah selesai. Permintaan maaf harus diiringi tindakan tegas dengan mengusut aktor-aktor yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tak berhenti di situ, negara pun harus mengoreksi setiap ketentuan regulasi dan kebijakan yang mengucilkan salah satu kelompok dan memastikan semua orang dapat menikmati haknya tanpa terkecuali.
semoga kita Dapat Menerima setiap perbedaan y teman.

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Memahami Rasisme



Apakah artikel ini melanggar peraturan (hoax,pornografi,ujaran kebencian dsb) ? Laporkan Admin atau Anda ingin menghubungi penulisnya? Kirim Pesan Ke Penulis


Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







Saran Artikel



Mencintai Bagaikan Lahir dan Mati | Tidak Akan ter

Ciluah.com – Seperti yang kita ketahui tak ada kata yang signifikan yang dapat menjelaskan secara pasti apa itu CINTA. Namun walaupun begitu, seriap insan yang ada di muka bumi pasti pernah merasaka

Kasus Pembunuhan Tak Terungkap

Bukan hanya dalam film thriller. Di Indonesia juga ada kasus kriminal pembunuhan yang tak terpecahkan walau 5 tahun sudah berlalu. Kasus itu adalah kasus kematian Akseyna Ahad Dori (18 Tahun) mahasisw

2 Orang Di China Berhasil Sembuh Dari Infeksi Coro

Kabar baik datang pasca wabah virus corona,sudah 2 orang di China yang dinyatakan sembuh dari infeksi virua corona. Seorang pria berusia 40++ tahun di provinai Zejhiang dan juga pasien seorang wanita

Perkenalkan provider By.u provider yang cocok untu

Hallo kali ini saya akan membahas tentang provider by.u atau hup beta. By.u adalah anakan dari telkomsel yang di perdana di publish tanggal 10 oktober 2019. Menurut Direktur Utama Telkomsel, Emma

Analisa Harian EURUSD 12 Juni 2020 | Forex Trading

Analisis Ichimoku (grafik 1 jam) Tenken-Sen-1,12991 Kijun-Sen-1,13400 EURUSD pulih sedikit di atas 1,1300 setelah mencelupkan sampai 1,12765. Dolar AS memperoleh kekuatan kemarin setelah jumlah tot


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum



Hubungi Admin !