pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Obrolan Filosofis di Sebuah Taman Kota






Pinterduit.com - Dua hari lalu, saya bersama seorang kawan Duduk santai di sebuah taman kota. Letak posisi duduk kami sengaja di beri jarak beberapa jengkal. Karena jika terlalu dekat saya khawatir orang sekitar mengira kami gay. Kan 🐶.

Suasana taman kota saat itu ramai dengan lika-liku kehidupan. Para pedangan beberapa sibuk melayani pembeli, ada juga yang murung lantaran penjualan tak sebanyak kemarin. Beberapa remaja putri yang mungkin masih Smp terlihat berjalan kesana-kemari membeli jajanan favorit.

Beberapa pasang kekasih sedang mengadu romansa di bawah pohon yang entah saya tak tahu nama. Yang perempuan bersender di bahu pria-nya dan yang pria mengelus-elus dengkul perempuan. Kami menggerutu pelan, sialan!!!

Anak-anak kecil dengan riang dan gembira selap-selip mengendarai motor dan mobil mainan. Saya fokus menyaksikan tingkah lucu mereka. Sangat menggemaskan. Melihat anak-anak kecil itu saya jadi ingin punya anak.

Saya membayangkan bersama istri kelak. Saya dan dia menemai sang anak bermain mobil-mobilan. Istri saya merasa was-was lantaran takut sang anak tidak dapat mengendalikan mobil mainan. Sementara, saya terus putar tombol pada remote tersebut agar laju mobil mainan semakin cepat sehingga anak saya ketakutan.

Kemudian anak saya menangis mengerang-erang. Dan saya akan tertawa terbahak-bahak melihat tangis dari sang anak. Lalu istri saya akan ngemban anak dan menengankan agar tangisnya reda. Istri saya ngomel-ngomel dengan ulah saya yang bikin si buah hati menangis.

Sungguh, bayangan yang indah nian. Bayangan buyar, tatkala bamba rokok mengenai pergelangan kaki kiri. Fak lah!

Kawan saya hanya tertawa. Sejenak kemudian ia fokus lagi pada dajal net dengan sinar yang memancar di bagian layar. Sebenar-benarnya, saya mempertanyakan esensi nongkrong namun masing-masing kawan sibuk sendiri dengan ponselnya. Apalah arti perkumpulan ini, man?

Jujur, saya sendiri kadang bermain ponsel saat kumpul bersama kawan. Namun saya melakukan itu lantaran tidak tahu apa yang mesti dilakukan ketika yang lain hapean. Saya paling hanya ngelogog sembari merokok. Tak ada pilihan lain, yang lain hapean ya saya ikutan.

Saya mengakui bahwa saya orang yang addict pada ponsel android. Tapi hanya ketika sedang berada di rumah saja. Dan saat sedang di luar rumah, di tempat keramaian, saya lebih suka menatap kosong ke sekitar jika tidak ada diskusi dan obrolan.

Kembali lagi saya menonton aksi bocah-bocah kecil yang mengenderai kendaraan mainan. Sesekali saya tertawa tipis tatkala ada diantara mereka yang hampir menabrak pohon, menabrak kendaraan lain dan terjerumus di kubangan air hujan.

Melihat anak kecil itu, saya jadi membayang di masa ketika saya belum tahu bagaimana rasa sakit karena cinta yang tak terbalas sesuai harapan yang penuh bunga. Saat masih umbel dan ingus meler menuju mulut kemudian terjilat hingga menimbulkan sensasi asin di lidah.

Ya jelas, masa kecil saya tak sempat merasakan mainan macam mereka. Saya tumbuh dekat dengan sawah. Mencari belalang dan membakar sisa padi yang tak terpanen hingga menjadi brondong.

Juga tumbuh dekat dengan sungai. Mencari ikan, yuyu dan udang. Memancing di kolam milik tetangga, lalu setelah dapat ikan segera dialihkan pada selokan terdekat. Agar di kira saya dapat ikan dari selokan, bukan nyolong di tetangga punya kolam.

Ah. Saya rasa masa kecil saya lebih seru dibanding bocah sekarang. Tapi masa kecil mereka juga lebih seru dengan di tunjang koneksi serta teknologi.

Dulu, jika ingin main game maka saya dan kawan-kawan harus menyambangi rental ps. Itupun dengan cara diam-diam agar tidak kena marah ibu yang begitu penyayang.

Lah sekarang? Anak kecil bisa dengan mudah bermain game dari ponsel pintar.

Kadang saya merasa iri dengan mereka. Kadang kala saya juga merasa lebih beruntung dibanding mereka.

Sepasang kekasih yang duduk di bangku tak jauh dari saya, ceweknya berteriak dan memberanguskan imaji masa kecil saya.

"Ah. Fuck", suara si cewek.

Saya kaget. Masa iya, mereka berani ngeue di taman kota? Saya tak mau suudzon dulu. Saya tengok ke samping kanan. Oh, ternyata.

Mereka hanya sedang bermain mobile legend. Itu bisa saya ketahui dengan hape yang ia posisikan dengan miring. Dan si cewek teriak "Ah. Fuck" mungkin karena ponselnya ngelag dan keasyikan game terhambat.

Duh, sayang sekali mereka gak mesum. Kalau mereka mesum pasti menjadi bulan-bulanan. Oh, sungguh akan malu seluruh sanak family dengan kesangean remaja yang lost control di tengah keramaian

Lalu saya dan seorang kawan terlibat obrolan ringan. Obrolan mulai menjamah hal-hal yang bersifat eksplisit. Saya mencoba bertanya padanya, seandainya di cintai oleh dua wanita. Yang satu masih perawan dan yang kedua sudah janda, mau pilih yang mana?

Jawaban dari kawan saya macam motivator ngehek saja. Dia menjawab,

"ya saya pilih yang setia. Juga dewasa dan pengertian".

Saya hanya iya-iya dan menganggukan kepala. Kini giliran teman saya yang bertanya. Bukan bertanya juga sih. Lebih tepatnya dia mendeskripsikan ocehan. Dia berseloroh,

"Wanita diuji jika laki-laki tidak punya apa-apa. Dan laki-laki diuji jika wanita tidak cantik jelita".

Mungkin begitu ocehnya. Saya setengah lupa apa yang dia ucapkan. Saya belokan kata-kata yang kawan saya ucap barusan.

"Wanita diuji jika laki-laki tidak punya apa-apa. Laki-laki diuji jika wanita tidak pakai apa-apa".

Kawan saya menghempaskan nafas. Dengan faseh dia berucap, "Asyu".

Obrolan kami melebar kemana-mana. Politik, agama, budaya, fenomena dan lain sebagainya. Sebatang rokok Djaja saya sumed dan hisap dalam-dalam. Rokok yang terhimpit jari telunjuk dan jari tengah melahirkan pertanyaan yang jarang ditanyakan.

"Kenapa ukuran jari jemari berbeda ya?", tanya saya.

Kawan saya memperhatikan telapak tangan sendiri. Ia mengangguk tidak menjawab. Memang, diantara kami tidak ada yang tahu dengan pasti jawaban yang tepat dan konkret. Mata saya beralih pada jemari di kaki kanan dan kiri.

"Loh?", ucap saya sembari menunjuk kaki.

"Lihat. Kenapa jari tengah lebih tinggi dibanding jari telunjuk pada tangan, sementara itu jari tengah lebih rendah dibanding jari telunjuk pada bagian kaki?".

Muncul lagi satu pertanyaan yang kami sendiri tak mampu memberikan jawaban. Why wa kenapa?

Dari hal-hal kecil dan mungkin juga sepele yang ada pada tubuh sendiri pun tidak tahu mengapa dan kenapa-nya. Padahal setiap saat saya selalu bersama dengan tubuh saya. Tapi mengapa saya tidak mengenali tubuh sendiri. Mengenali fungsi dan itu ini. Aneh sekali.

Kawan saya berseloroh mendengar statement saya yang mengatakan bahwa selama ini kita tidak sebenar-benarnya mengenal diri sendiri. Dia berkata,

"Diri sendiri saja tidak kenal, tapi minta di kenal sama orang lain".

"Tubuh sendiri saja tidak di perhatikan, tapi minta di perhatiin orang lain".

Saya menganggukan kepala. Membenarkan apa ucapan kawan saya. Saya keluarkan statement terakhir untuk menutup obrolan di taman kota sebelum pulang.

"Bagaimana mungkin, dapat mengenal tuhan. Wong, mengenal diri sendiri saja tidak bisa!".


Www.vsdiksi.com

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Obrolan Filosofis di Sebuah Taman Kota





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







space iklan

Saran Artikel



Membatasi Pemakaian Gadget dan Komputer Pada Anak

Sumber Poto: https://www.liputan6.com/tekno/read/3904224/daftar-harga-hp-android-murah-dengan-spesifikasi-mumpuni-ramah-kantong-banget Dewasa ini hampir tidak ada lagi orang yang tidak punya gadget da

Cara Membuat Donat Kentang Untuk Pemula

Donat, siapa yang tidak tau makanan yang satu ini selain lezat donat juga mudah untuk di buat. Kali ini saya akan sedikit membahas bagaimana cara membuat donat kentang yang empuk dan mengembang sempur

Puisi : Rahasia

Anak sekolah hanya bisa baca dan tulis. Makanya, Aku menggambar. Gambar wajah kamu. Tapi, Ternyata aku tak bisa. Wajahmu yang cantik, Ketika aku gambarkan, Hasilnya malah mirip demit. Jadi, sekara

Outbreak Lagi Virus Demam Afrika Di Bali Dan Flu B

Wabah Virus corona belum usai dikabarkan ada virus outbreak lagi salah satunya di negara kita yaitu tepatnya di Bali, dikabarkan ribuan babi mendadak mati karena penyebaran virus Demam Afrika, namun p

Arti Lirik Lagu YUI - Hello | Terjemahan Arti Lag

Jepang: Hello~ How many koishiteru no I can see sugu ni wakaru wa Makka na Jealousy kakaete Chigau jibun ni kidzuite iru Kiken na yume furetaku naru Douka shiteru? Ano rak


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum


space iklan

space iklan
pinterduit.com