pinterduit blog logo Pinterduit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini







Home » Umum



Ojek Online Versus Ojek Pangkalan

Umum • 27 Jun 2020 • 33 Dilihat • publish




Pinterduit.com - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau biasa disingkat KBBI (https://kbbi.web.id/), arti kata Ojek itu adalah sepeda atau sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya.
Namun sekarang pengertian itu sepertinya sudah meluas, karena tidak lagi melulu sepeda motor tetapi mobil juga sudah dianggap sebagai bagian dari ojek. Sehingga taksi (yang pasti mobil) sekarang juga biasa di sebut ojek mobil.

Bagi yang biasa sering berpergian naik bis antar kota ataupun naik pesawat ataupun naik angkutan umum lainnya, maka pastilah sudah terbiasa berurusan dengan ojek ini. Meskipun ditempat tersebut sudah ada kendaraan umum yang operasional, namun terkadang karena alasan privacy, ingin cepat sampai, atau alasan aksesabilitas, maka orang masih cenderung menggunakan ojek.

Hanya saja sebelum lahirnya ojek online, maka berurusan dengan ojek pangkalan ini adalah susah-susah gampang. Penumpang memerlukan pengalaman baik yang dialami sendiri ataupun mendengar cerita orang lain dalam hal bernegosiasi dengan mereka, ataupun memiliki strategi khusus dalam hal menghindari mereka.

Karena cenderungan para penarik taksi ini kelakuannya (maaf) agak kasar dan memaksa (meskipun tidak semuanya sih). Terkadang tarifnya juga di luar nalar, misalnya saja biaya naik bis dari sebuah kota ke kota lainnya hanya 100 ribu rupiah dengan jarak sekitar 200 km, sementara untuk naik taksi bisa saja pelanggan diminta membayar sampai 200 ribu hanya untuk jarak 12 km saja.

Hal ini juga termasuk kebiasaan taksi resmi di bandara (biasanya dimiliki oleh sekelompok orang tertentu), di mana kalau kita menaiki taksi gelap atau pribadi bisa hanya sekitar 40 ribu rupiah saja, tetapi dengan taksi resmi bisa mencapai 150 ribu rupiah. Padahal jaraknya hanya sekitar 6 kilometer saja, yang satu liter Pertamax pun tidak habis.

Sehingga sebagai penumpang atau konsumen, seseorang harus cerdas. Kalau penulis dulu sebelum adanya ojek online, maka sebelum berangkat naik pesawat akan menyimpan nomor kontaknya seseorang penarik taksi pribadi, sehingga begitu tiba kembali dari perjalanan, penulis tidak menaiki taksi resmi bandara, tetapi akan berjalan kaki keluar komplek bandara lalu menelpon taksi langganan.

Nomor penarik taksi pribadi juga biasanya penulis simpan lebih dari satu orang, untuk antisipasi yang seseorang itu tidak bisa menjemput. Penulis hanya naik taksi resmi bandara jika betul-betul terpaksa saja, itupun di dalam hati penuh omelan terhadap tarifnya yang diluar nalar.

Yang perlu menjadi catatan juga bagi para penarik ojek, taksi resmi atau pun pengusaha taksi adalah, tidak semua penumpang itu adalah orang yang sangat berduit atau kaya. Terkadang mereka melakukan perjalanan itu karena terpaksa ataupun karena perjalanan dinas yang uangnya sangat pas-pasan. Sehingga dengan biaya taksi yang mahal, maka menambah bebannya lagi. Hal ini juga akan berimbas kepada naiknya harga barang-barang, yang secara tidak langsung juga menyumbang terjadinya inflasi.

Sementara bagi orang yang kaya, dia akan menelpon orang rumah untuk menjemputnya menggunakan mobil pribadinya, yang lebih bebas dan menyenangkan. Jadi sebenarnya para pelanggan taksi itu justru orang-orang kelas ekonomi menengah ke bawah, bukan orang-orang kaya.

Melalui tulisan ini juga, penulis menghimbau agar para pemilik taksi resmi di bandara dan taksi pangkalan, segeralah berbenah diri. Janganlah selalu mengaplikasikan tarif gila, karena dengan kemajuan teknologi informasi, maka ide-ide brilian dari orang-orang akan bermunculan dengan orientasi kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen dan juga dalam upaya memenangkan persaingan.

Tidak cukup hanya dengan tubuh kekar bertato, mata sangar dan bentakan, tetapi yang diperlukan penumpang itu adalah senyum ramah, tarif murah dan pelayanan yang lemah lembut. Maka jika taksi resmi di bandara dan taksi pangkalan tidak bisa beradaptasi dengan perubahan jaman, maka siap-siaplah akan tumbang. Inventasi yang telah anda lakukan akan sia-sia dan mubazir.

Mungkin ada sedikit saran untuk ojek atau taksi pangkalan, cobalah aplikasikan tarif sesuai yang dilakukan oleh ojek online. Maksudnya begini, jika seseorang penumpang minta diantarkan ke suatu tempat, kalian buka aplikasi ojol tertentu (tentu di install terlebih dahulu) atau juga terkadang pada browser yang di pasang di HP Android jika kita mencari sesuatu biasanya ada penawaran ojol di situ dengan tarifnya.

Nah, sesuaikan saja besar tarifnya seperti itu, maka penulis yakin penumpang tidak lagi alergi melihat ojek pangkalan atau taksi resmi di bandara. Karena terus terang saja, penumpang itu mengomel panjang pendek jika harus terpaksa naik padahal uangnya sudah pas-pasan di kantong.

Kalau usahanya mau bertahan hidup, maka harus bisa berdaptasi dengan perkembangan jaman, jangan seperti seseorang yang asyik bermain games dengan HP, suara nyamuk demam berdarah sudah kedengaran berdenging di telinga sebagai pertanda siap menggigit. Yang seharusnya dia segera menepuknya atau mengambil raket nyamuk untuk membunuhnya, tetapi dia terus memainkan Games-nya, sehingga akhirnya nyamuk Aedes Aegypti itu menggigit. Maka si gila games tadi terkena Demam Berdarah Dengue (DBD).

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Ojek Online Versus Ojek Pangkalan





Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code