PinterDuit.com

Dapatkan penghasilan dengan cara berkontribusi menulis artikel di situs ini









Home » Umum



Wacana New Normal Di Bulan Juli 2020, Sangat Berbahaya






Pinterduit.com - Wacana yang dimunculkan oleh presiden Joko Widodo pada awal Mei 2020 lalu, yaitu ingin hidup berdamai dengan Covid-19 atau lebih dikenal dengan istilah New Normal atau kelaziman baru dalam menghadapi penyebaran virus Corona atau Covid-19 sudah bergulir kencang di tengah masyarakat, dengan harapan akan terjadi herd immunity atau menggambarkan bagaimana orang secara kolektif dapat mencegah infeksi jika beberapa persen populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit, dalam hal ini adalah kekebalan terhadap virus Corona.
Wacana ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra di dalam masyarakat. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saja tak merekomendasikan setiap negara yang menerapkan herd immunity dan melonggarkan lockdown. Penelitian di Spanyol dan Perancis menunjukkan bahwa tidak lebih dari 5 persen dari populasi tersebut telah mengembangkan antibodi COVID-19 (https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5019104/apa-sih-herd-immunity-corona).
Banyak anggota masyarakat yang tidak setuju dengan wacana ini, mulai dari rakyat jelata, para tokoh masyarakat, para artis, anggota KPAI, sampai anggota DPR RI. Meskipun sampai saat ini pihak Pemerintah sepertinya tetap keukeh untuk membuka sekolah di bulan Juli 2020. Hal ini tentu saja membuat gundah para orang tua, termasuk juga penulis, karena penulis masih memiliki tiga orang anak yang masih bersekolah. Karena menurut pendapat pribadi penulis, jika memaksa membuka sekolah di bulan Juli 2020, padahal pandemi belum selesai, itu sangat beresiko. Karena jika sampai penyebaran virusnya tidak terkendali, maka akan banyak nyawa yang melayang. Padahal bisa saja diantara yang meninggal itu ada orang-orang yang berperan untuk kemajuan Indonesia di masa depan, seperti calon politisi baik, para ahli kesehatan, para ahli nuklir, ahli ekonomi, ahli teknologi tinggi, atau bahkan calon presiden yang kelak dikemudian hari bisa membangun Indonesia untuk menjadi lebih baik.
Kami sebagai rakyat jelata, mohon agar pemerintah mempertimbangkan kembali terhadap wacana ini, karena terus terang saja menurut hemat kami wacana ini agak berlebihan kalaulah bisa dikatakan (maaf) agak gila. Jangankan anak-anak, orang tua saja masih kita sangsikan apakah mampu selalu berlaku hati-hati dan teliti dalam setiap detik kehidupannya. Sekali saja dia lengah dan mengusap matanya atau hidungnya dengan tangan yang belum sempat di cuci, padahal tangannya sudah tersentuh dengan barang atau benda yang sudah terkontaminasi dengan virus corona, maka jelaslah dia akan terinfeksi oleh penyakit ganas ini. Karena bisa saja virus itu sudah bertebaran di udara, di kursi ojek online, di jok motor, di stir mobil, di buku atau pensil, di meja belajar di sekolah, di pintu WC, di lantai rumah sakit atau sekolah atau Mall, di gelas, di uang jajan, di baju, di nafas orang lain yang OTG, dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang terjangkit dan positif Covid-19 dikarenakan merawat pasien yang positif. Apa lagi bagi orang awam yang tidak terlalu paham dengan kesehatan dan pola penyebaran virus ini. Itu belum lagi anak-anak SD atau SMP yang sama sekali belum sadar akan bahayanya virus ini, bisa saja ada kawannya yang tanpa sadar memeluk dan mencium mereka atau karena memegang uang jajan yang terkontaminasi.
Sehingga, menurut hemat penulis, janganlah hanya ahli kepada ekonomi saja yang didengarkan pendapatnya. Tetapi minta pendapat juga dengan ahli pendidikan, praktisi pendidikan, dan para orang tua siswa-siswi se Indonesia. Selain itu, pemerintah juga harus ingat, bagaimana sudah lelahnya para tenaga kesehatan merawat orang yang terinfeksi Covid-19, apakah mereka masih sanggup jika pasien bertambah lagi?. Bagaimana kapasitas rumah sakit, apakah siap atau masih ada ruang untuk merawat pasien baru jika terjadi penyebaran yang marak dan tak terkendali. Bagaimana dengan ketersediaan ventilatornya, bagaimana dengan ketersediaan sarana dan prasarana lainnya?. Semuanya ini hanya Pemerintah yang bisa menjawabnya, karena Pemerintahlah yang tahu pasti bagaimana jumlah dan ketersediaannya sarana dan prasarana dalam menangani Covid-19.
Menurut hemat penulis, dengan melihat kasus di Perancis dan Korea Selatan, dan beberapa negara lainnya banyak anak-anak sekolah terinfeksi setelah sekolah di buka kembali. Padahal di negara itu sebagian besar sudah boleh dikatakan berhasil dalam menangani penyebaran virus corona ini. Apalagi kasus Indonesia, grafik penyebarannya masih naik, bukannya turun. Kita belum tahu bagaimana kondisi penyebarannya di pertengahan bulan Juni 2020 nanti. Sekarang saja grafiknya sedang naik dan jumlah yang terinfeksi sudah lebih dari 24 ribu jiwa. Presiden Philipina, Duterte saja tidak mau membuka sekolah di sana sebelum pandemi ini selesai. Dia mengatakan lebih rela anak-anak tidak naik kelas daripada kehilangan nyawa.
Di saat ini, banyak anak-anak yang kekurangan gizi sehingga daya tahan tubuhnya turun drastis karena kekurangan uang selama stay at home ini. Sehingga sangat beresiko kalau harus masuk sekolah sebelum ditemukan vaksinnya. Lebih celaka lagi jika terinfeksi harus berobat sendiri. Kondisi sekarang ini, jangankan membayar biaya yang sampai ratusan juta, untuk makan saja sudah banyak rakyat yang kesusahan dan menyusu kepada pemerintah melalui bantuan sosial. Apa lagi ditambah bantuan bagi terdampak Covid-19 tidak tepat sasaran. Karena data yang sudah dimiliki pemerintah itu dikhawatirkan kurang akurat. Karena terbukti dilapangan masih banyak orang yang betul-betul butuh bantuan tetapi tidak mendapatkan bantuan.
Mengapa kita tidak belajar dari Vietnam, Korea Selatan, Taiwan, dan Selandia Baru dalam menangani pandemi ini. Lebih baik kita belajar dengan negara yang telah sukses menghadapinya dari pada berandai-andai saja. Toh masih lebih bagus terlambat daripada kita tidak melakukannya atau salah langkah dalam mengambil kebijakan. Tidak ada yang perlu dijadikan sebagai rasa malu, yang harus jadi pokok pikiran adalah demi keselamatan seluruh rakyat Indonesia.
Menurut pendapat pribadi penulis, jika ingin dilonggarkan PSBB atas pertimbangan ekonomi, silakan saja. Tetapi khusus untuk pembukaan sekolah, lebih baik jangan dibuka dulu sebelum pandemi ini selesai atau paling tidak sudah tersedia vaksin yang manjur untuk mengatasinya. Saya sebagai orang tua, terus terang saja berat rasanya mengijinkan anak-anak untuk bersekolah jika situasi masih seperti ini. karena saya lebih mengutamakan keselamatan nyawa anak-anak saya dari pada sekolah. Karena terbukti banyak juga orang yang sukses dalam hidup, meskipun tidak bersekolah tinggi.
Perlu kami ceritakan di sini, demi mematuhi himbauan Pemerintah, kami dari awal bulan Maret 2020, sudah melaksanakan stay at home, memakai masker jika terpaksa keluar rumah, selalu mencuci tangan jika habis berpergian atau habis memegang barang yang terindikasi bisa terinfeksi Corona, langsung mandi dan mencuci pakaian yang dikenakan sebelum masuk rumah ketika kembali dari pasar sayur, bahkan kalau kami membeli sayur yang sudah jadi di pasarpun kami panaskan dulu kira-kira virusnya mati baru berani di makan. Ini semua dalam mengamankan keluarga agar tidak terinfeksi, juga membantu Pemerintah agar penyebaran virus ini bisa segera dihentikan. Jadi kalau ada wacana membuka sekolah di masa pandemi ini belum berhenti ataupun vaksinnya belum ditemukan, terus terang saja kami merasa dikhianati. Meskipun kami tahu, Bapak Presiden dan jajaran pemerintahan lainnya tentu saja saat ini sudah sangat lelah, putus asa, serta khawatir melihat kondisi masyarakat dan keadaan perekonomian Indonesia yang terjun bebas karena pandemi ini. Tetapi saran kami, kalau bisa, urus nyawa dululah sebelum memikirkan ekonomi. Toh Indonesia setahu kami belumlah bangkrut.
Pemerintah boleh saja mengijinkan masyarakat kembali membuka Mall, transportasi publik, apotik, warung-warung atau café, atau usaha apapun. Tetapi khusus untuk rumah ibadah, janganlah Pemerintah melarangnya di buka, terserah masing-masing agama saja. Cuma Pemerintah tetap harus mengingatkan saja agar umat selalu mengikuti protokol kesehatan. Lebih baik Pemerintah Indonesia tetap menghimbau saja, agar masyarakat Indonesia beribadah dari rumah, bagi yang patuh, ya baguslah.

Artikel ini diterbitkan untuk Pinterduit.com dengan judul Wacana New Normal Di Bulan Juli 2020, Sangat Berbahaya



Apakah artikel ini melanggar peraturan (hoax,pornografi,ujaran kebencian dsb) ? Laporkan Admin atau Anda ingin menghubungi penulisnya? Kirim Pesan Ke Penulis


Bagikan Artikel Ini
full html code

link

BB Code







Saran Artikel



Bot Whatsapp Untuk Mendapatkan Info Realtime Seput

Bagi kamu yang ingin mendapat info terupdate seputar wabah virus covid-19 tanpa harus capek browsing dan mencari cari di google. Pihak UNICEF telah membuat bot whatsapp u-report yang anda bisa akses d

Kisah Nyata | Siasat Mendapatkan Tumpangan Untuk P

Pada era penulis masih SMA tahun 1980-an, sangatlah susah mencari tumpangan untuk pulang kampung. Karena pada masa itu belum ada perusahaan angkutan seperti dewasa ini di daerah kami. Hanya mengharapk

Lirik Lagu YUI - Crossroad

Jepang: Hidamari no naka de hashagu kodomo-tachi Mizushibuki agaru kedo Umaku waraenakute Tada bonyari sonna keshiki miteru Henji no nai MEERU bakari Ki ni shite shimau no wa mou yameyou

Biodata BTS Lengkap

BTS (방탄소년단) terdiri dari 7 member: RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V dan Jungkook. BTS debut pada tanggal 13 Juni 2013, di bawah naungan Big Hit Entertainment, dengan single utama ‘No More D

Kelebihan Menulis Lepas Di Pinterduit.com Dibandin

Halo para penulis dan pembaca setia pinterduit.com Pada kesempatan kali ini admin akam memberitahukan apa saja kelebihan menulis lepas di pinterduit.com dibanding platform lainnya. Berikut ini adal


AIAndroidAnimeAsmaraBisnisBitcoinBloggerCerpenData ScienceFashionFilmForexGameHewanInternetKesehatanKeuanganKulinerLirik LaguOlahragaOpiniPendidikanPuisiSejarahStartupTanamanTeknologiTokohTravelUmum



Hubungi Admin !